Perbincangan tentang Sastra dan Penerbitan Dewasa Ini

Octavio Paz

Kesejahteraan suatu masyarakat dapat disimpulkan dari kondisi sastra di dalamnya. Jika kita, misalnya, ingin mengetahui kondisi moral dan spiritual masyarakat Eropa di antara dua perang besar, maka kita tidak perlu bertanya kepada para sejarawan dan sosiolog. Bacalah sajak-sajak TS Eliot atau novel-novel Thomas Mann. Tinjauan saya tentang hal ini—saya tidak begitu merasa perlu untuk mengatakannya—didasarkan pada posisi saya sebagai seorang penulis Meksiko. Dalam hal ini pula, tinjauan saya adalah visi seseorang yang berasal dari sebuah negara yang disebut Dunia Ketiga.

Saya harus berhenti sejenak untuk mengatakan dua hal. Pertama, “Dunia Ketiga” adalah istilah yang tidak lepas dari konsep yang kurang tepat. Sebutan ini tidak punya makna sosiologis dan historis yang tepat. Istilah ini merupakan fantasi kalangan politisi dan media. Dunia Ketiga terdiri dari banyak dunia, campuran pelbagai budaya dan masyarakat yang heterogen dengan banyak karakteristik dalam adat istiadat. Kedua, cara pandang seorang penulis, baik ia seorang Meksiko maupun kebangsaan lainnya, hanya dapat bersifat individual dan unik. Seorang penulis tidak akan dan tidak dapat bicara untuk orang lain. Seorang penulis adalah suara dari kesadaran pribadi, suara soliter. Saya tentu saja tidak bermaksud mengatakan bahwa penulis adalah seseorang yang tidak berkebangsaan, tidak berkaitan dengan rakyat. Kaum lelaki dan perempuan adalah anak-anak yang lahir dari tradisi dan bahasa, mereka adalah produk sejarah. Namun, penulis tidak dapat bicara mengatasnamakan siapa pun kecuali dirinya sendiri. Nyatalah bahwa, dalam beberapa kasus, bahasa suatu bangsa diucapkan oleh mulut penyair. Ada momen-momen tertentu yang hanya terjadi sekali atau dua kali setiap ratusan tahun. Penulis bukanlah wakil atau juru bicara suatu kelas, negara, maupun gereja. Sastra itu tidak menunjukkan melainkan ditunjukkan. Misi sastra adalah menampilkan dunia dengan keragaman dan perkembangan di dalamnya. Bukan dunia yang sifatnya menyeluruh karena hal itu adalah pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan. Sastra bertugas menyajikan aspek relitas ini atau itu. Cara menyajikan ini mempunyai banyak bentuk. Bentuk-bentuk ini adalah pencarian dan penemuan realitas. Inilah satire atau transfigurasi.

Malaise sastra kontemporer adalah rahasia yang diketahui siapa pun. Ini adalah rahasia di mana pun, diulang-ulang dalam banyak perbincangan. Saya memakai kata “malaise”, bukan “dekadensi”, karena saya percaya bahwa kata berurusan dengan suatu kondisi tentang kelemahan. Adalah rumit untuk menentukan sebab-sebabnya, tetapi saya tidak berisiko apa pun ketika saya pikir sebab-sebab itu sama saja dengan factor-faktor yang melumpuhkan peradaban kita dalam senjakala abad ini. Kita hidup dalam suatu jeda historis. Sekarang, saya akan menunjukkan secara ringkas beberapa gejala dari penyakit kita.

Setiap hari, kita membaca berita-berita, artikel-artikel, dan perhitungan-perhitungan tentang fakta yang susah. Ketika pendidikan semakin meluas dan tingkat buta huruf semakin menyusut, minat orang modern untuk membaca justru menurun. Ketimpangan itu sangat mudah untuk dikecam dan berakibat pada apa yang disebut—saya tidak tahu kenapa— “sastra serius”. Dalam hal ini Aristophanes, Boccacio, Rabelais, Cervantes, maupun Swift adalah penulis-penulis yang serius. Kita juga sering membaca penilaian-penilaian dan opini-opini yang “benar” tentang dekadensi beberapa genre. Suatu kali tentang kemunduran genre novel, lalu cerita pendek, teater, esai, dan yang selalu dibicarakan adalah dekadensi dalam puisi. Puisi selalu dituduh ketinggalan zaman dan itu adalah tuduhan yang aneh. Adakah yang berpikir bahwa sastra abad ke-20 tidak akan diisi oleh Rilke dan Valery, Yeats dan Montale, Pessoa dan Neruda? Mereka adalah peranti langka yang benar-benar tak kenal letih berkarya. Tentu masih begitu banyak deklarasi kemerdekaan, penemuan-penemuan revolusi estetis, puisi dan novel, yang berkaitan dengan masalah sastra. Kini, jeda adalah suatu hal yang natural. Untuk kembali menghela nafas, kita harus berhenti sejenak. Kesalahan pemerintah, televisi, dan bisnis berskala besar lainnya adalah karena mereka menawarkan kepada massa, di balik dusta dari kemasan “budaya populer”, hiburan dan pertunjukan yang seperti menegaskan bahwa kehidupan modern itu sama dengan sirkus Romawi.

Kebanyakan hanya berupa kritik, tetapi saya tidak melihat bagaimana setan-setan yang mereka hujat itu dapat diperbaiki tanpa pembaruan secara umum atas keadaan masyarakat kontemporer kita. Meraka adalah setan-setan yang menguasai asal-usul peradaban kita. Kita tentu saja dapat meluruskan beberapa hal kecil. Misalnya, kita dapat melawan dengan lebih aktif manipulasi-manipulasi politik dan komersial yang sekarang dilakukan di balik topeng “budaya kata”. Kita juga dapat meningkatkan studi tentang sastra dan kemanusiaan di sekolah-sekolah dan universitas-universitas. Namun, semua ini sebanyak apa pun tetap tidak cukup.

Di antara kritik-kritik ini ada beberapa yang merujuk pada kesulitan yang dialami para pengarang dalam menerbitkan karya-karya mereka. Kita dapat secara halus menyebutnya sebagai hal yang sulit, atau dengan kata lain yang lebih buruk, elitis. Sejak munculnya penerbitan, relasi antara pengarang dan penerbit tidaklah berjalan mulus. Namun, walaupun selalu bertengkar, satu sama lain saling membutuhkan. Kini, logika yang menentukan penerbitan buku adalah logika pasar. Bagi saya, ini adalah logika yang tidak dapat diterapkan secara mekanis pada masalah kompleks itu. Logika ini menunjukkan rumitnya rangkaian aktivitas menulis buku, menerbitkan, mendistribusikan, dan membacanya. Sastra tentu saja tidak berbeda dan tidak bisa lepas dari hukum-hukum pasar. Kesamaan itu dari waktu ke waktu berubah menjadi pemberontakan, dan pemberontakan adalah bagian dari sejarah sastra abad ke-20.

Jelaslah tidak ada sastra jika tidak ada penerbit. Meskipun demikian, banyak hal yang tidak bisa begitu saja menentukan nilai-nilai karya sastra. Karya-karya Mallarmé adalah karya-karya yang tepat dan sangat diperlukan seperti halnya Zola. Logika pasar mendorong para penerbit untuk membuat produk yang beragam dan bersikap menyederhanakan. Yang ideal adalah menerbitkan buku-buku yang jumlah cetakannya terbesar, dan melihat buku ini pada saat yang sama menjadi baru seperti buku-buku sebelumnya. Itulah rahasia best seller, produk baru yang hanya tampak berbeda dari buku-buku lainnya. Sejujurnya, jauh dari menjadi berbeda, buku best seller menunjukkan rasa yang mutakhir dan gaya yang dominan.

Karena melihat situasi inilah, saya berpikir bahwa perbaikan yang diletakkan pada keragaman rasa, kesukaan, dan kecenderungan, hanyalah upaya membedakan pasar. Jika kita tidak ingin sekadar mencari keuntungan tetapi juga menyelamatkan sastra dari kebekuan yang mengancamnya, maka kita harus menghargai keberadaan hal-hal minoritas serta membesarkan hati mereka. Pada konteks inilah, kita menemukan rahasia kebugaran sastra dan saya berani mengatakan kesejahteraan peradaban kita. Perbaikan yang saya usulkan pada dasarnya berusaha mengembalikan tradisi besar para penerbit di zaman modern sejak abad ke-18. Tidaklah mungkin melupakan bahwa eksistensi sastra kita bukan hanya berkaitan dengan hak bagi kaum jenius dan bakat para penulis serta penyair besar kita, tetapi juga usaha dari para penerbit yang berani dan cerdas. Mereka mengambil risiko menerbitkan karya-karya tak lazim yang bertentangan dengan opini, rasa, dan moralitas kalangan mayoritas, gereja, dan pemerintah.

Untungnya, tradisi ini masih hidup. Dalam hal ini, kita bisa melihat fakta yang sama sekali tidak tertutupi gelombang besar kebodohan yang mengelilingi kita di mana pun. Kita harus ingat bahwa tradisi ini terancam oleh iklan, konglomerat-konglomerat besar, industri komunikasi dan industri hiburan. Juga, oleh uang serta keterlibatan pemerintah. Kita memerlukan para penerbit yang lebih berani seperti ini, para penerbit yang mencintai sastra dan berani mengambil risiko.

Adalah tak termaafkan dan munafik untuk tidak menambahkan bahwa partisipasi para penulis merupakan hal yang vital. Kita perlu memulihkan kebesaran tradisi sastra abad ke-20. Bukan untuk mengulangnya melainkan untuk mengubahnya. Tidakkah saya memikirkan penemuan-penemuan para leluhur kita, atau bentuk-bentuk yang mereka temukan?

Kenapa mengulang apa yang sudah dilakukan dengan baik? Saya kira kita harus kembali pada inspirasi yang mereka bangun. Inspirasi-inspirasi itu bukan hal yang sepele maupun sejenis sastra konformis. Sebaliknya, inspirasi-inspirasi itu bersifat kritis, agresif, kompleks, serta sulit. Karya-karya klasik pada zaman modern tidak memuji selera dan prasangka-prasangka maupun moralitas para pembacanya. Tujuan mereka bukanlah menenangkan melainkan mengganggu serta membangunkan para pembacanya. Inilah karya sastra dari para penulis yang tidak takut berdiri sendirian. Mereka tidak pernah berlari, lidah mereka menjalar ke mana-mana. Bagi mereka, kerja menulis adalah petualangan dalam wilayah yang tidak dikenal. Dan, lungsuran menuju kedalaman bahasa. Inilah pelajaran dalam keunggulan, sekaligus pelajaran dalam keberanian dan kemandirian. Itulah kenapa karya-karya mereka tetap hidup. Kita, para penulis pada zaman sekarang, harus kembali mempelajari kata yang dalam kesusastraan modern bersuku kata Tidak (No). Saya selalu percaya bahwa puisi—tanpa membuang sisinya yang paling gelap bahwa puisi bersumber dari horor dan bencana—selalu berakhir dalam kegembiraan hidup.

Misi tertinggi dari kata adalah Mengada (Being). Namun, pertama-tama, kita harus belajar berkata, “Tidak.” Inilah satu-satunya cara yang dapat kita lakukan. Dan kemudian, kita mungkin dapat berkata, “Ya,” dengan menyambut kehidupan sehari-hari sebagai kelahiran hari yang baru.

 

Keterangan: Esai ini saya terjemahkan dari “A Discourse on Literature and Publishing Today”. Penerjemahannya dari bahasa Spanyol ke dalam bahasa Inggris dikerjakan oleh Ernest A. Johnson, Jr. dan dimuat di www.gyoza.com/frank/html/08Paz.html. Versi bahasa Indonesia dimuat dalam buku Menulis Itu Indah: Pengalaman Para Penulis Dunia terbitan Alinea (2003) yang lantas diterbitkan ulang oleh Octopus pada 2016.

 

Cara Menghitung Biaya Produksi Buku Indie

AKU SUDAH nulis esai “Cara Kere Nerbitin Buku”, sebuah panduan ringkas untuk bikin rumah penerbitan buku dengan pola yang sederhana. Ngindie, begitulah. Gaya Jogja pula.

Aku juga sudah bikin simulasi produksi buku indie di esai “Simulasi Cetak Offset” yang bisa kamu baca di blog ini. Nah, esai yang sekarang ini adalah lanjutannya.

Kita mulai dengan sebuah buku yang akan kamu terbitkan. Ini cara menghitung biaya cetak, ya. Kamu harus maklum kalau esai ini penuh angka. Moga-moga kamu gak bingung.

Rumah penerbitanmu mau bikin buku setebal 200 halaman. Ukuran buku itu 14 x 20 cm. Kamu ingin mencetak dengan kertas jenis Bookpaper. Oplahnya 500 eksemplar. Lalu, berapa dana yang harus kamu siapin supaya buku itu bisa dicetak hingga kelar dan siap untuk dijual?

Komponen pokok untuk cetak buku adalah kertas. Jumlah kertas dan ukuran kertas yang kamu butuhkan tergantung sama mesin cetak offset yang cocok untuk mencetak bukumu. Mesin cetak offset yang biasa dipakai adalah mesin Oliver 58 dan Oliver 52.

Mesin Oliver 58 punya area cetak 43 cm x 56 cm. Sedangkan area cetak di Oliver 52 adalah 50 cm x 36 cm. Mesin yang cocok untuk bukumu yang ukurannya 14 cm x 20 cm adalah Oliver 58.

Kok bisa?

Gini. Kecocokan itu didapat dengan rumus: lebar buku 14 cm x 2 sisi (kanan dan kiri) = 28 cm x 2 = 56 cm. Artinya, 56 cm itu cocok dengan area cetak 58 cm. Sedangkan panjang buku 20 cm cocok dengan area cetak 43 cm karena 20 cm x 2 saja menghasilkan 40 cm.

Sampai sini kamu paham, ya.

Lalu, kertas ukuran berapa sih yang cocok untuk area cetak di mesin cetak Oliver 58?

Kamu harus memakai kertas Bookpaper ukuran plano 61 cm x 86 cm. Alasannya, area cetak adalah 43 cm x 56 cm. Berarti dari 86 cm di ukuran plano bisa dibagi 2, yaitu masing-masing 43 cm atau 43 cm x 2 = 86 cm. Sedangkan ukuran plano 61 cm cocok untuk area cetak 57 cm, bahkan menyisakan sisa potongan kertas. Sisa potongan ini sedikit lho alias kamu lebih hemat kertas dibanding kalau kamu memakai mesin Oliver 52.

Jadi, kamu akan mencetak bukumu dengan mesin cetak Oliver 58 dan memakai kertas ukuran plano 61 cm x 86 cm.

Berapa banyak kertas yang kamu butuhkan untuk mencetak bukumu?

Begini cara menghitungnya.

Tebal bukumu adalah 200 halaman. Bagilah dengan 16.

Kok bisa muncul angka 16?

Angka 16 itu muncul dari hitungan 8 bidang atau area cetak 43 cm x 56 cm. Angka 8 itu menjadi 16 karena bukumu dicetak bolak-balik alias 8 x 2 muka = 16. Maka, hitungannya adalah 200 halaman : 16 = 12,5 lembar. Artinya, 200 halaman tebal bukumu sama dengan mencetak 12,5 lembar kertas isi bukumu bolak-balik.

Pusing ya?

Nah, biar kamu tahu jumlah kertas yang kamu butuhkan, pakailah rumus ini: 12,5 lembar x oplah 550 eksemplar buku = 6.875 lembar. Atau, jumlah total kertas untuk mencetak buku setebal 200 halaman dan oplah 550 eksemplar adalah 6.875 lembar kertas.

Kenapa oplahnya menjadi 550, bukan 500 eksemplar?

Percetakan tak mungkin garap cetak bukumu sesuai jumlah buku yang kamu order. Ditambahin jadi 550 eksemplar supaya percetakan bisa mengatasi problem kerja produksi, misalnya kertas isi terlipat, tinta tidak terserap, ada halaman buku yang tidak tercetak, dan lain-lain. Selain itu dengan menambah oplah dari 500 ke 550 eksemplar, kamu bisa dapat hasil cetakan lebih 500 eksemplar yang kamu order.

Kembali ke jumlah kertas yang kamu butuhkan, ya.

6.875 lembar kertas : 1.000 = 6,8 rim plano.

Oya, angka 1.000 itu muncul karena 1 plano adalah 500 lembar kertas, padahal bukumu dicetak bolak-bolak alias 500 lembar x 2 muka = 1.000.

Berapa tadi hasilnya? 6,8 rim plano ya? Bulatkan jadi 7 rim plano.

Berapa dana untuk kertas segitu?

Harga kertas Bookpaper per plano (500 lembar) ukuran 61 cm x 86 cm adalah Rp 258.000. Maka, 7 rim plano x Rp 258.000 = Rp 1.806.000.

Kelar ya soal kebutuhan kertas isi untuk mencetak bukumu.

Kita lanjut ke kebutuhan kertas untuk cetak sampul bukumu.

Kamu akan bikin 500 eksemplar buku, atau sama dengan 500 lembar sampul buku. Lebihkan pesananmu menjadi 600 lembar. Alasannya sama dengan alasan melebihkan orderan untuk cetak isi.

Gunakanlah kertas Ivory 230 gram untuk sampul bukumu.  Maka, rumusnya adalah 600 lembar : 8.

Kok bisa muncul angka 8?

Angka 8 itu berasal dari kecocokan ukuran kertas dengan area cetak di mesin Oliver 58. Yang 8 bidang kayak sudah dijelasin di atas itu lho.

Hasil dari rumus 600 : 8 adalah 75. Artinya, kamu perlu 75 lembar kertas sampul ukuran plano.

Berapa dananya?

Harga kertas Ivory 230 gram per lembar adalah Rp 2.500, maka 75 lembar x Rp 2.500 = Rp 187.500.

Yuk kita bahas soal kebutuhan plat untuk cetak isi bukumu.

Plat adalah master yang akan diaikkan ke mesin cetak lalu mencetak kertas-kertas untuk bukumu.

200 halaman bukumu harus dibagi 8. Angka 8 itu, kembali ke awal, sesuai hasil pembagian dari area cetak mesin Oliver 58 (area ukuran 56 cm x 43 cm).

Kenapa dibagi 8, bukan dibagi 16?

Percetakan akan mencetak bukumu dengan per lembar kertas secara bolak-balik. Setiap plat itu hanya untuk satu muka. Yang diganti dalam pergantian halaman ketika buku dicetak adalah platnya, bukan kertasnya. Ah, kamu perlu ketemu aku untuk menjelaskan soal ini secara teknis disertai coret-coretan.

Hasil dari 200 halaman : 8 adalah 25 plat. Artinya, bukumu setebal 200 halaman itu memerlukan 25 plat sebagai master cetak. Harga per plat adalah Rp 25.000. Jadi, 25 plat x Rp 25.000 = Rp 625.000.

Selanjutnya kita lihat biaya cetak isi dan cetak sampul bukumu.

Biaya cetak isi bukumu itu 25 plat x Rp 40.000 per plat = Rp 1.000.000. Harga plat di setiap percetakan itu beda-beda, tergantung kemauan mereka. Carilah percetakan yang kasih harga plat paling murah. Ingat: kamu harus hemat.

Bagaimana dengan biaya cetak sampul bukumu?

Kamu akan tahu biaya ini berdasarkan biaya plat cetak sampul dan biaya cetak sampul.

Harga plat sampul buku adalah Rp 25.000 x 4. Angka 4 itu muncul karena cetak sampul bukumu bersifat full color (4 warna CMYK). Jadi, harga plat untuk sampul bukumu adalah Rp 25.000 x 4 = Rp 100.000. Sedangkan harga cetak untuk sampul bukumu adalah Rp 180.000.

Sekarang kita bahas soal tahap akhir pengerjaan produksi bukumu.

Hasil cetak isi harus dilipat dan disusun oleh percetakan. Mereka memakai mesin lipat/susun. Kalau memakai tenaga manusia, wah bisa lebih lama tuh ngerjainnya. Nanti bisa keriting pula tangan mereka. Kasihan.

Ada 6.875 lembar kertas isi yang sudah dicetak, atau kita bulatkan jadi 7.000 lembar. Biaya untuk ngelipat dan nyusun kertas-kertas itu adalah Rp 40. Maka, Rp 40 x 7.000 lembar = Rp 280.000.

Selanjutnya adalah biaya laminasi sampul bukumu yang sudah dicetak. Rumus yang digunakan oleh percetakan adalah P (Panjang) x L (lebar) x 0,30. Angka 0,30 itu memang sudah ditentukan oleh percetakan.

Karena laminasi sampul itu tidak mungkin hanya laminasi untuk area desain sampulmu saja tapi juga area kosong di kertas sampulmu, maka hitungan “aman” untuk sampul bukumu yang berukuran 14 cm x 20 cm adalah: P 32,5 cm x  L 25 cm x 0,30 = 244. Kamu harus terusin dengan menghitung begini: 244 x 550 lembar kertas hasil cetak sampul = Rp 134.200.

Tahap berikutnya adalah binding atau penjilidan, yaitu gabungin hasil cetak isi buku dengan hasil cetak sampul buku. Alat yang dipakai adalah mesin binding. Biaya binding per buku setebal 200 halaman itu Rp 600. Jadi, Rp 600 x 500 eksemplar buku = Rp 300.000.

Kenapa gak dihitung 550 eksemplar?

Itu karena percetakan akan balikin biaya binding ke hitungan order riil bukumu, yaitu 500 eksemplar. Kalau akhirnya kamu dapat lebih dari 500 eksemplar buku, maka itu adalah hakmu juga.

Tahap paling ujung adalah wrapping (membungkus buku dengan plastik). Biayanya Rp 500 per buku. Jadi, Rp 500 x 500 eksemplar = Rp 250.000.

Udah begitu doang.

Selesai deh.

Ini rincian biaya total produksi bukumu:

(1) Kertas isi Rp 1.806.000

(2) Kertas sampul Rp 187.500

(3) Plat untuk cetak isi Rp 625.000

(4) Plat untuk cetak sampul Rp 100.000

(5) Biaya cetak isi Rp 1.000.000

(6) Biaya cetak sampul Rp 180.000

(7) Biaya lipat/susun hasil cetak isi Rp 280.000

(8) Biaya binding Rp 300.000

(9) Biaya wrapping Rp 250.000

(10) Biaya laminasi doff Rp 124.200

Biaya cetak total Rp 4.852.700.

Kalau dirinci per biji, maka kamu akan tahu Harga Pokok Produksi (HPP) per buku. Menghitungnya: Rp 4.852.700 : 500 eksemplar = Rp 9.705. Kamu bisa bandingin HPP cetak memakai mesin offset mesin besar ini dengan HPP cetak memakai mesin Toko ataupun POD. Lebih murah, Bung. Lebih hemat, Nona.

Kalau oplahmu lebih dari 500 eksemplar, HPP itu bisa lebih murah lagi lho. Kok bisa? Ya karena prinsip dasar produksi itu lebih banyak oplahnya maka lebih murah harganya. Nanti kujelasin deh rincian teknisnya kalau aku ketemu kamu.

Sekarang mending kamu hitung harga jual bukumu dengan biaya produksi di atas, ya.

Harga jual buku itu bisa kamu bikin kalau kamu sudah menghitung semua biaya bukumu: pracetak (royalti penullis atau penerjemah, biaya penerjemahan naskah, editing, setting isi buku, desain sampul) dan cetak. Yuk kita praktekkan.

HPP bukumu itu Rp 9.705. Coba kamu kalikan tujuh, atau Rp 9.705 x 7 = Rp 67.935. Kamu bulatkan deh jadi Rp 70.000.

Hitunglah seolah-olah bukumu laku semua, yaitu 500 eksemplar x Rp 70.000 = Rp 35.000.000.

Kamu harus menghitung juga diskon untuk reseller sebesar 30-35%. Ambil tengahnya, yaitu 25% karena banyak juga pembeli satuan yang gak usah kamu kasih diskon. Buku indie itu eksklusif kok, wajar aja kalau gak diskon untuk transaksi satuan. Nah, menghitungnya adalah Rp 70.000 x 75% = Rp 52.500 x 500 eksemplar = Rp 26.250.000.

Bagaimana soal royalti penulismu?

Anggap saja bukumu itu sebuah karya yang penulisnya kamu bayar dengan sistem royalti sebesar 10%. Rumusnya: 10% x oplah buku yang dicetak x harga jual buku. Misalnya 10% x 500 eksemplar x Rp 70.000, maka kamu harus bayar royalti penulismu itu sebesar Rp 3.500.000. Aku berbaik hati menghitung royalti penulis dari harga buku brutto, bukan dari harga buku netto setelah diskon untuk reseller.

Lanjut, ya.

Kamu harus menghitung juga diskon untuk reseller sebesar 30-35%. Ambil tengahnya, yaitu 25% karena banyak juga pembeli satuan yang gak usah kamu kasih diskon. Buku indie itu eksklusif kok, wajar saja kalau gak diskon untuk transaksi satuan. Nah, menghitungnya adalah Rp 70.000 x 75% = Rp 52.500 x 500 eksemplar = Rp 26.250.000.

Sekarang kamu bisa menjumlahkan semuanya.

Omset total Rp 26.250.000 – biaya cetak Rp 4.852.700 – biaya pracetak Rp 1.500.000 – royalti Rp 3.500.000 = Rp 16.397.300. Itulah keuntunganmu. Bersih Rp 16.397.300 dari 500 eksemplar bukumu yang terjual.

Dana segitu sudah beres buatmu. Kamu bisa membayar percetakan. Bisa membayar royalti. Bisa membayar desainer. Sudah kasih diskon ke reseller juga.

Selanjutnya ngapain?

Ya ngopi-ngopi dong. Bercanda juga bareng teman-temanmu.

Kerja, iya. Nongkrong, iya.

Jangan lupa, kamu kerjakan buku berikutnya. Dan kalau kamu mau belajar dari cara hitungan di esai ini, kayaknya kamu gak bakal ditipu percetakan dalam soal biaya cetak buku.

Salam buku.

Sayap Kanan Sarekat Islam di Balai Pustaka

Pada 2017, Balai Pustaka berusia satu abad. Lembaga penerbitan milik pemerintah ini telah melahirkan banyak sekali buku bacaan yang dikonsumsi oleh masyarakat sejak zaman Hindia Belanda hingga zaman Indonesia Merdeka. Pengaruhnya menyusup ke pelbagai kelompok masyarakat. Dari bocah-bocah usia sekolah dasar hingga sastrawan ternama. Dari bangsawan hingga intelektual. Bahkan jurnalis senior Mochtar Lubis (1995) mengatakan, “Saya suka baca. Ayah saya punya perpustakaan lengkap. Banyak buku terbitan Balai Pustaka. Saya suka buku sejarah dunia yang diindonesiakan oleh Haji Agus Salim.”

Selain produk buku, Balai Pustaka juga pernah diisi oleh awak redaksi yang mumpuni. Setelah hancurnya kekuasaan kolonial Belanda, lembaga penerbitan itu menjadi tempat yang menyenangkan bagi para seniman. Pelukis Nashar mengaku sering berkunjung karena ia bisa banyak belajar dari orang-orang kreatif yang bekerja di sana. Pengarang-pengarang terkenal seperti Idrus dan Achdiat Kartamihardja duduk sebagai editor sastra. Dua teman Nashar sesama pelukis juga menjadi ilustrator di penerbit tersebut, yaitu Nasjah Djamin dan A. Wakidjan.

Pernyataan Lubis seperti menafikan kenyataan bahwa Balai Pustaka adalah rumah penerbitan yang didirikan untuk mengontrol rakyat pribumi agar selalu sesuai dengan kebijakan pemerintah kolonial Belanda melalui penerbitan bacaan-bacaan yang “non-ideologis”. Pernyataan Nashar seolah-olah menutup fakta bahwa di luar kemeriahan kreativitas di divisi keredaksian, Balai Pustaka menjelang akhir kekuasaan kolonial di Hindia Belanda menggunakan orang-orang tahanan sebagai buruh demi menekan ongkos produksi. Lubis dan Nashar mungkin juga tidak tahu bahwa dalam pandangan kelompok-kelompok radikal kiri di tahun 1920-an, bekerja di Balai Pustaka dan membantu kerja-kerja kepenulisan dan keredaksian di tubuh penerbit tersebut adalah “pengkhianatan” atas perjuangan kemerdekaan nasional.

Hadji Agoes Salim dan Abdoel Moeis memasuki Balai Pustaka ketika mereka masih aktif di dunia pergerakan demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun, mereka masuk ke sana justru karena alasan perbedaan cara pandang dengan kelompok aktivis lainnya tentang perjuangan untuk kemerdekaan.

Sebagai petinggi-petinggi Sarekat Islam, pilihan Salim dan Moeis menunjukkan keterkaitan dasar pikiran mereka tentang perjuangan melawan kolonialisme Belanda dengan kesediaan mereka memasuki organ-organ bikinan Belanda (Volksraad, Indie Weerbaar, Balai Poestaka). Karena mereka berdua berada di dalam lingkup terdalam konflik internal Sarekat Islam pula maka keterlibatan mereka di Balai Pustaka menjadi tampak berbeda dengan keterlibatan sosok-sosok pribumi lainnya di sana. Latar belakang Salim dan Moeis berada di sana tidak sama dengan latar belakang profesionalisme Armijn Pane, Sanusi Pane, Adinegoro, Dajoh, Damhoeri, Raden Ardiwinata, Raden Memed Sastrahadiprawira, Nur Sutan Iskandar, dan Aman Madjoindo.

Kisah panjang tentang masuknya kaum pribumi di Balai Pustaka dapat dirunut sejak era Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels menginisiasi pendirian Landsdrukkerij pada 22 November 1809. Landsdrukkerij adalah lembaga penerbitan yang berasal dari penggabungan percetakan swasta dan negara. Lembaga, yang bertempat di Weltevreden, ini lantas menjadi salah satu yang paling maju di kawasan Asia Tenggara.

Sekira satu abad kemudian, pemerintah betul-betul menjadikan lembaga penerbitan sebagai senjata untuk menekan rakyat Hindia Belanda. Melalui Keputusan Pemerintah No. 12 pada 14 September 1908 pemerintah kolonial mendirikan Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) dengan Dr. G.A.J. Hazeu sebagai ketua. Komisi ini memiliki enam orang anggota, yang bertugas memilih bacaan-bacaan yang sesuai untuk rakyat Hindia sebagai pertimbangan bagi Direktur Pendidikan. Orang-orang pribumi yang bekerja sama dengan komisi ini antara lain Patih Sukabumi Raden Soeria Nata Pamekas dan Patih Batavia Raden Mas Aria Dipa Koesoema.

Komisi Bacaan Rakyat juga dibantu oleh pekerja-pekerja pribumi, termasuk Hoesein Djajadiningrat yang dipromosikan oleh C. Snouck Hurgronje, kolega lawas Hazeu di Het Kantoor voor Inlandsche zaken (Kantor Penasihat Kolonial untuk Urusan Pribumi). Hoesein dan kakaknya, Pangeran Ahmad Djajadiningrat, menurut A.P.E. Korver (1985), memang menjadi murid Hurgronje. Bandingkan dengan saudara kandung mereka lainnya, yaitu Hasan Djajadiningrat, yang menjadi tokoh Sarekat Islam berpengaruh di Jawa Barat di masa awal pergerakan nasional.

Pengaruh Hurgronje terhadap Sarekat Islam lebih sedikit dibanding pengaruh Hazeu. Mungkin karena Hurgronje khawatir sentimen anti-Islam yang melekat pada dirinya sebagaimana yang terdengar lirih di masyarakat akan membuatnya tidak disukai Sarekat Islam. Tak heran jika Hazeu menjadi sosok yang lebih kuat masuk ke kubu Sarekat Islam.

Menurut Aqib Suminto (1985), Hazeu adalah orang yang sudah sejak tahun 1916 berhubungan dekat dengan Sarekat Islam. Dalam rangka kongres yang berlangsung pada 17-24 Juni 1916 di Bandung, misalnya, ia menerima seluruh tokoh Sarekat Islam di rumahnya, sejak pimpinan pusat sampai utusan ranting, dimana ia mendengarkan keluhan-keluhan dan memberikan nasihat-nasihat kepada mereka. Hazeu pula yang mendapat tugas untuk memeriksa kondisi masyarakat setelah meletusnya Peristiwa Cimareme oleh Sarekat Islam Afdeeling B di Garut, Jawa Barat, pada 1919.

Di masa kepemimpinan Hazeu, D.A. Rinkes menjabat sebagai Sekretaris Komisi Bacaan Rakyat. Rinkes pula yang mengajukan usul kepada pemerintah untuk didirikannya perpustakaan demi memperlancar penyebaran terbitan-terbitan Komisi Bacaan Rakyat. Hasilnya, keluarlah Keputusan Pemerintah No. 5 pada 13 Oktober 1910 tentang pembentukan perpustakaan-perpustakaan dengan nama Taman Poestaka.

Kemudian berdasarkan Keputusan Pemerintah No. 63 pada 22 September 1917 didirikanlah Kantoor voor de Volkslectuur yang berdiri sendiri dan dipimpin oleh seorang Hoofdambtenaar. Lembaga ini sekaligus mendapat nama baru yaitu Balai Poestaka. Nama Balai Poestaka, menurut Ajip Rosidi (1979), diusulkan oleh Agoes Salim yang bekerja sebagai Hoofdredacteur di sana pada 1917-1919.

Rinkes memimpin Balai Pustaka, lembaga penerbitan yang mengambil alih pekerjaan Komisi Bacaan Rakyat. Ia ingin rumah penerbitan ini memproduksi buku-buku yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari, seperti pelajaran keterampilan, pertanian, tanaman, ilmu alam, mendidik anak, maupun nasihat tentang tingkah laku. Dengan kata lain, seperti dikatakan Yamamoto Nabuto (1995), Balai Pustaka dimaksudkan untuk menyediakan bahan-bahan bacaan yang “aman”.

Siapa orang yang merespons dengan cepat maksud Rinkes itu?

Agoes Salim.

Di tahun pertama berdirinya Balai Pustaka, Salim bersama B. Vrijburg menerbitkan buku Soeloeh menternakkan hidoep-hidoepan. Selama bekerja di sana, Salim juga menerjemahkan karya-karya yang membahas peternakan dan bahaya madat.

Balai Pustaka memang memerlukan bantuan orang-orang pribumi di divisi keredaksian. Hal ini pula yang membuat D.K. Ardiwinata pengarang novel pertama berbahasa Sunda, kata Mikihiro Miroyama (2003), menjadi kepala editor Balai Pustaka untuk seksi Sunda. Tapi, keterlibatan penulis cum aktivis pergerakan politik di sana tentu saja berbeda dengan Ardiwinata. Ketika Salim menjadi kepala redaksi Balai Pustaka, maka telaah atas kegiatannya itu harus melampaui telaah urusan pekerjaan keredaksian sebuah lembaga penerbitan semata.

Kenapa Salim aktif di lembaga penerbitan milik pemerintah kolonial?

Ketika memberi kuliah di Cornell University, AS, pada 1953 Salim berkata, “Sejak di HBS saya telah menjauh dari Islam, hanya karena keluarga yang taat saya tetap Islam.” Di masa HBS itu Salim memang menjalani kehidupan ala Barat, menerima konsep sosial-demokrasi, dan “menjauh dari Islam”. Ia baru kembali menjadi muslim yang taat setelah sang ayah meyakinkan dirinya bahwa ada sarjana Belanda yang masuk Islam, yaitu Snouck Hurgronje. Sejak itu pula Salim membaca buku-buku karya Hurgronje.

Pada 1906 Salim ditawari bekerja oleh Hurgronje sebagai Konsul Belanda di Jeddah, Arab Saudi. Ia menjalaninya hingga tahun 1911. Pada 1915-1917 ia bekerja di penerbitan Indonesische Drukkerij, lalu menjadi Hoofdredacteur untuk bahasa Melayu di Balai Pustaka. Ada yang menyebutkan bahwa ia bekerja di sana hingga tahun 1934 dengan merujuk pada salah satu karya terjemahannya yang terakhir, yaitu Tjerita Mowgli Anak Didikan Rimba dari karya asli Rudyard Kliping walau buku ini diterbitkan Balai Poestaka pada 1948. Bandingkan dengan pernyataan Solichin Salam (1963) bahwa, “… hingga tahun 1919 beliau masih bekerdja disana.”

Di tahun-tahun aktivitas Salim di Komisi Bacaan Rakyat dan Balai Pustaka, ia juga aktif di Sarekat Islam. Ketika buku yang dikarangnya bersama B. Vrijburg terbit pada 1917, benih-benih radikalisme kiri mulai tumbuh di kubu SI Semarang. Pada waktu inilah ia bereaksi keras. Dalam artikelnya di surat kabar Neratja edisi 1 Oktober 1917, ia menyebut kelompok SI Semarang sebagai kaum yang, “… hendak membagi bangsa kita atas ‘kaoem pekerdja’ dengan ‘kaoem bermodal.’ Kaoem itoe jang membatalkan hak-milik, jang memakai nama ‘socialist’ jang dibangoenkan dan dikembangkan dalam negeri ini oleh toean-toean Sneevliet, Baars d.l.l.” Ia juga menulis, “… kaoem ‘’socialist‘ itoe memboeta toeli sadja hendak memindahkan sengketa dan perselisihan di roemah tangganja (Eropa) ke tanah air kita.”

Salim sudah tergabung dengan Komisi Bacaan Rakyat sebelum Sarekat Islam, yang dimasukinya pada 1915, dilanda konflik ideologis yang menimbulkan perpecahan: SI Putih dan SI Merah. Alasan yang paling mungkin kita duga dari keterlibatannya di lembaga penerbitan itu adalah kesadarannya akan pentingnya penguasaan bahasa dan pengetahuan oleh rakyat pribumi. Namun, pijakannya di kubu Oemar Said Tjokroaminoto dalam konflik ideologis di tubuh Sarekat Islam membuatnya tampak berada di kubu kolonial karena di saat yang sama ia menerbitkan buku-buku non-ideologis melalui Balai Pustaka. Posisinya sebagai editor di sana menjadi tampak sangat bertentangan dengan posisi lawan-lawan politiknya di kubu SI Merah yang menganggap buku-buku Balai Pustaka sebagai upaya pengalihan pemerintah kolonial atas isu-isu kemerdekaan Bumiputra.

Salim adalah seorang kompromis demi perluasan wawasan dan pengetahuan rakyat. Ia membela buku, dari rahim mana pun buku itu lahir. Ia juga menggerakkan tulisan melalui koran sebagaimana ia tunjukkan saat ia memimpin surat kabar Neratja dan aktif di Oetoesan Hindia. Tapi, sebagai muslim yang pernah “menjadi Barat”, lalu terpengaruh buku-buku Hurgronje, ia lantas menjadi anti-komunis. Ia sungguh berbeda dengan sang adik, Chalid Salim, tokoh komunis yang dibuang ke Boven Digoel selama 15 tahun, lalu menjadi pemeluk Katolik.

Kolega Salim yang juga aktif di Balai Pustaka adalah Abdoel Moeis. Dengan melihat tahun kelahiran karya terjemahannya yang pertama pada 1923, Moeis bekerja untuk Balai Pustaka justru di tengah konflik internal Sarekat Islam. Ia bahkan mengalami langsung serangan-serangan kubu radikal kiri di tubuh Sarekat Islam sejak ia bersama Tjokroaminoto menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Walaupun Semaoen, Darsono, dan anggota-anggota SI Semarang lainnya menentang Volksraad, Moeis menganggap Volksraad sebagai tempat yang tepat untuk menggerakkan harapan-harapan pemuda. Dengan Volksraad pula suara Bumiputera akan lebih terakomodasi demi membentuk pemerintahan sendiri bagi Hindia.

Sikap Moeis yang kompromis terhadap pemerintah kolonial tampak pula ketika ia pada 1917 mewakili Sarekat Islam diutus ke Belanda sebagai anggota Indie Weerbaar, sebuah komite bentukan pemerintah yang akan membicarakan masalah pertahanan bagi rakyat Hindia. Walau ditentang oleh SI Semarang, ia tetap berangkat ke Belanda.

Sebagaimana Salim, Moeis juga menentang kubu radikal kiri di Sarekat Islam. Ia tak sejalan dengan Semaoen, Darsono, Tan Malaka, dan lain-lain yang menurutnya sangat dipengaruhi Henk Sneevliet. Dalam tulisannya di Sinar Djawa edisi 2 Oktober 1917, ia menulis, “… SI Semarang masih koeat melengkat pada Sneevliet, karena djiwanja SI Semarang ialah Semaoen, sedang toelang tonggong Semaoen ialah Sneevliet. Boekankah kita tahoe penghidoepan Semaoen ialah dari perkoempoelan VTSP, sedang Djiwanja VTSP ialah Sneevliet poela.”

Sikap keras Moeis terhadap SI Semarang setidaknya muncul lugas dua kali. Pertama dalam polemiknya dengan Darsono pada 1918 yang bahkan membuat Darsono berani menuduh tulisan Moeis tidak keluar dari isi kepalanya sendiri, tetapi ada orang lain yang turut campur dalam tulisannya. Sedangkan pertikaian terbuka lainnya terjadi antara Moeis dengan Semaoen dalam Kongres III Central Sarekat Islam pada 29 September – 6 Oktober 1918 di Surabaya. Perdebatan ini menjadi benih perpecahan di tubuh Sarekat Islam.

Moeis memang sama kompromisnya dengan Salim. Mereka berdua menjabat sebagai petinggi Central Sarekat Islam (CSI) pimpinan Tjokroaminoto. Buktinya, kebijakan pemetintah tentang aturan pemogokan-pemogokan buruh pada 1918-1919 mendapat sambutan baik dari CSI. Namun Semaoen, Darsono, dan Marco Kartodikromo menentangnya.

Moeis belum menulis buku ketika Mas Marco Kartodikromo menerbitkan Mata Gelap (Drukkerij Insulinde, 1914) dan Student Hidjo (Masman & Stroink, 1919), juga ketika Semaoen menerbitkan Penoentoen Kaoem Boeroeh (1919) dan Hikajat Kadiroen (1920). Selisih sebentar dari waktu terbit buku-buku yang tergolong “Bacaan Liar” itu, Moeis justru bekerja untuk Balai Pustaka. Selama di sana, ia menerjemahkan dan menerbitkan Don Kisot karya Cervantes, Tom Sawyer Anak Amerika (Mark Twain), Sebatang Kara (Hector Melot), dan Tanah Airku (C. Swaan Koopman) masing-masing pada 1923, 1928, 1932, dan 1950.

Pada 8 Februari 1922 Moeis ditangkap dan diasingkan ke Garut. Ini adalah kota kecil yang pernah pikuk dengan dunia penerbitan buku oleh duo Karel Frederik Holle dan Moehamad Moesa untuk buku-buku berbahasa Sunda yang disesuaikan dengan kemauan pemerintah kolonial.

Menurut Maman S. Mahayana dalam buku Akar Melayu (2001), Moeis tinggal sebagai petani di Garut pada 1924. “Dia mengawali penulisan novelnya awal tahun 1927 saat dia sudah meninggalkan kegiatan politiknya dalam Sarekat Islam selama lebih dari satu dasawarsa (1912-1924),” tulis Maman. Tapi, dengan melihat Don Kisot, karya terjemahannya yang pertama kali diterbitkan pada 1923, Moeis sudah bekerja sebagai penerjemah untuk Balai Pustaka sejak ia masih aktif di Sarekat Islam. Karya orisinal pertamanya sendiri adalah roman Salah Asoehan pada 1928. Karya-karyanya selanjutnya adalah Pertemoean Djodoh (1933), Soerapati (1950), dan Robert Anak Soerapati (1953). Semuanya dari rahim Balai Pustaka.

Medan pertarungan ideologis sayap kanan Sarekat Islam yang diwakili Salim dan Moeis kontra sayap kiri yang diwakili Semaoen, Marco, Tan Malaka, Darsono, dan lain-lain memang tidak hanya berlangsung dalam polemik di surat kabar. Mereka pernah saling teriak untuk kasus-kasus Volksraaad, Indie Weerbaar, dan Partijdiscipline Sarekat Islam. Mereka saling berargumen di pelbagai surat kabar untuk menegaskan pemikiran dan pilihan aksi mereka walau sama-sama berasal dari Sarekat Islam. Namun, perbedaan cara mendidik kaoem kromo melalui bacaan telah membuat mereka bersilang jalan.

Salim lama berkecimpung di Komisi Bacaan Rakyat, memasuki Sarekat Islam, lalu menduduki posisi penting di Balai Pustaka.  Ia bahkan berada di rumah yang sama dengan Rinkes ketika Marco menerbitkan Mata Gelap yang mengkritik degradasi moral pribumi akibat “pembaratan” budaya oleh kolonialisme Belanda. Salim menerjemahkan buku-buku fiksi dan sejarah dunia sesuai tugas dari Balai Poestaka yang secara konten berbeda dengan buku-buku yang dikategorikan “Bacaan Liar”. Salim ingin meningkatkan wawasan rakyat Hindia melalui buku-buku terbitan Balai Pustaka walau ia tahu bahwa lembaga penerbitan itu didirikan dan dimiliki pemerintah kolonial.

Selepas konflik internal Sarekat Islam, Semaoen dan kawan-kawan mendirikan Partai Kommunist Hindia lalu menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika Komisi Batjaan Hoofdbestuur PKI menerbitkan buku-buku yang disebut Rinkes sebagai “Bacaan Liar”, tujuan awalnya bukan untuk melawan dominasi Balai Pustaka melainkan demi pendidikan bagi rakyat. Dengan kata lain niat awal mereka segaris dengan niat awal Salim melalui Balai Pustaka. Tapi, sayap kiri ini semakin jelas menyerang Balai Pustaka setelah mereka melihat Salim dan Moeis berada di sana dan membantu penerbitan buku-buku yang disesuaikan dengan semangat kolonial. Bahkan Moeis melakukannya sejak ia aktif di Sarekat Islam dan kubu kiri giat merilis “Bacaan Liar” melalui SI Semarang. Bagi sayap kiri, perbuatan Salim dan Moeis itu turut menunjang dominasi kolonial terhadap kesadaran rakyat Hindia.

Perseteruan sayap kanan dan sayap kiri di tubuh Sarekat Islam memang tidak tidak hanya terefleksikan dalam konflik CSI vs SI Semarang atau Sarekat Islam vs Sarekat Ra’jat. Medan pertikaian dua kubu itu juga tidak akan hanya kita kenal dalam kisah saling ejek tentang kumis dan jenggot oleh Agoes Salim dan Moeso dalam sebuah rapat Sarekat Islam. Mulai hari ini kita tahu bahwa Salim, juga Abdoel Moeis, pernah menyandarkan diri mereka pada Balai Pustaka sebagai upaya menghindarkan rakyat dari bacaan-bacaan yang penting untuk kemerdekaan rakyat.

Kekerasan di Dunia Buku Jogja

Gesekan, pertengkaran, konflik, intimidasi, kekerasan verbal, bahkan perkelahian fisik terjadi di rumah-rumah buku di Jogja. Pelaku dan korbannya adalah pimpinan penerbit, karyawan penerbit, bos distributor, penulis, dan orang-orang suruhan yang bertugas menagih utang.

Pada suatu malam di tahun 2008 saya dan dua petinggi penerbit besar di Jogja mengobrol di kedai kopi di MP Book Point, sebuah toko buku di Jalan Kaliurang yang dimiliki penerbit Mizan. Mereka bercerita tentang penerbitan edisi terjemahan karya besar tentang sejarah Jawa. Buku itu dipermasalahkan oleh seorang teman kami juga yang mengaku sebagai pemilik awal naskah terjemahan tersebut.

Menurut dua orang yang mengobrol dengan saya malam itu, karya besar edisi bahasa Indonesia tersebut sudah mereka beli dari seorang teman kami lainnya. Pembayaran untuk transaksi jual-beli naskah terjemahan dilakukan dalam dua bentuk: uang tunai dan kertas untuk produksi buku. Masalahnya, pemilik awal mengaku tidak pernah menjual naskah terjemahan tersebut kepada dua teman saya itu. Maka, ia menuding penerbit yang membeli naskah itu sebagai penadah barang curian. Penjelasan tentang alur pembelian naskah dan penerbitan bukunya sudah disampaikan oleh penerbit, namun problem ini tidak kelar begitu saja.

Malam itu saya hanya dimintai pendapat tentang keruwetan yang terjadi di antara sesama teman dalam dunia penerbitan buku di Jogja. Saya kemudian tahu bahwa masalah tersebut bisa diselesaikan oleh mereka. Tapi, peristiwa itu juga menunjukkan bahwa hubungan antar-penerbit selalu pasang-surut. Tidak benar jika pelaku-pelaku penerbitan selalu kompak dan damai. Gesekan dan konflik berkali-kali muncul di antara mereka karena faktor-faktor yang berkaitan dengan bisnis buku.

Kisah itu bukan satu-satunya. Yang lantas berlanjut menjadi pertikaian tentu saja ada. Yang berjalan diam-diam dalam bentuk kejengkelan dan kekecewaan pun banyak. Yang jelas, pergaulan di antara para pelaku perbukuan itu tidak semulus paha Cynthiara Alona. Apalagi peristiwa yang lebih menyesakkan justru terjadi ketika pelaku-pelakunya adalah orang-orang buku bersumbu pendek dan emosional.

Soal emosi, saya punya pengalaman dengan orang-orang bersumbu pendek. Pada suatu malam di tahun 2005 saya sedang makan di pinggir Jalan Gejayan ketika salah satu karyawan menelepon dan meminta saya segera ke kantor karena terjadi perkelahian sesama karyawan produksi di ruang percetakan. Saya berlari menuju kantor yang jaraknya hanya 30 meter dari warung makan. Memang benar. Di antara tumpukan-tumpukan kertas hasil cetakan yang sedang mereka kerjakan finishing-nya, dua orang saling pukul dan saling tendang. Tidak ada yang melerai hingga saya datang dan melempar kursi ke arah mereka.

Dua laki-laki yang bekerja lembur malam itu berkelahi karena saling tidak menyukai dan berebut pekerjaan. Saya malu melihat mereka bertikai karena menurut saya bekerja di penerbitan buku itu sebaiknya dengan menjauhi kekerasan.

Kisah lainnya saya peroleh dari seorang teman saya yang juga bos percetakan di Jalan Wahid Hasyim, Nologaten. Ia bercerita tentang gesekan yang terjadi antara penerbit dan distributor buku yang melibatkan bekas rekan bisnisnya di penerbitan buku. Hingga tahun 2010, teman saya ini adalah pimpinan sebuah penerbit di Jalan Palagan Tentara Pelajar, lantas ia mengundurkan diri dan membangun bisnisnya sendiri. Salah satu karyawan percetakannya sekarang masih bekerja di sana hingga akhirnya penerbit itu bangkrut.

Menurut keterangan bekas karyawan penerbitan itu, ia pernah diajak bosnya mendatangi distributor yang bekerja sama dengan mereka dalam pendistribusian dan pemasaran buku mereka. Kemarahan yang timbul akibat masalah yang terjadi antara penerbit dan distributor pun muncul. Sang bos penerbit lantas menyuruh si karyawan itu untuk membeli bensin yang akan dipakai untuk membakar kantor distributor tersebut.

Bukan sekali si bos itu berkata intimidatif dan bertindak mengancam terhadap pihak lain. Ia pernah meminta seorang pimpinan sebuah penerbit kecil di Jakarta agar membayar utang cetak, lantas ia menyita sepeda motor milik sang penerbit. Ironisnya, intimidasi itu dilakukan ketika sesaat sebelumnya sang penerbit sedang mengikuti rapat aktivis-aktivis muda sebuah organisasi kemasyarakatan tingkat nasional.

Bos penerbit dari Jalan Palagan itu pernah mendatangi saya di kantor dengan membawa rombongan laki-laki dalam satu pikap penuh dan mengintimidasi saya soal pencetakan buku. Bahkan, di waktu yang lain ia menugasi beberapa anak buahnya untuk mengintimidasi seorang penulis karena masalah sengkarut duit. Aksi pemukulan nyaris terjadi di sebuah warung kopi di dekat Selokan Mataram, tempat kedua belah pihak sepakat untuk bertemu dan menyelesaikan persoalan. Peristiwanya mirip dengan adegan Aliarcham dan Ngadiran memukuli Moehamad Sanoesi di Boven Digoel karena Sanoesi dianggap memecah belah orang-orang buangan dan menjadi spion Belanda. Mereka hidup di habitat komunis Jawa tahun 1920-an, tapi tidak akur lagi dan justru bertengkar hebat ketika ada masalah. Menurut Mas Marco Kartodikromo, waktu itu Sanoesi tak berani melawan. “Umpama berani, pasti ia masuk liang kubur, paling tidak diangkut ke rumah sakit,” tulisnya dalam Pergaoelan Orang Boeangan di Boven Digoel (1931).

Di warung kopi itu, sang penulis yang terpojok pojok pun tak melawan orang-orang suruhan bos penerbit. Saya tertawa mendengar kisah itu diceritakan oleh teman saya si bos percetakan. Bukan apa-apa. Si penulis yang ketakutan itu adalah orang yang pernah mendatangi kantor saya sambil marah-marah lalu menggunting habis sebuah buku terbitan saya. Rupanya ia tak berkutik juga saat menghadapi lawan yang lebih urakan.

Ada banyak kabar, rumor, dan peristiwa nyata yang berkaitan dengan intimidasi dan kekerasan di dunia penerbitan buku di Jogja. Saya pernah mendengar cerita tentang seorang penerbit yang diancam dan ditodong pistol di kamar sebuah hotel oleh sekelompok penagih utang. Cerita lainnya tentang seorang bos percetakan yang kabarnya menjadikan istri seorang penerbit sebagai jaminan agar masalah utang suaminya segera diselesaikan. Si bos percetakan menaruh istri sang penerbit itu di kantor polisi agar suaminya datang, membayar utang, lalu membawa istrinya pulang.

Saya mengalami dan menyaksikan beberapa urusan yang bikin pening itu. Menjelang bangkrut, sekelompok orang suruhan bos sebuah percetakan di Jalan Magelang datang lantas mengangkut mesin cetak yang sedang berdengung mencetak buku di kantor penerbitan saya. Saya menyerah. Sama menyerahnya ketika saya dijambak dan kerah kemeja saya ditarik oleh seorang laki-laki suruhan sebuah lembaga perbankan hanya karena salah paham soal jadwal pembayaran atas tagihan kartu kredit.

Lain waktu saya justru menemani seorang bos percetakan dari Jalan DI Panjaitan untuk mengambil sebuah printer plat kertas di sebuah penerbit di timur Jogja karena urusan utang. Ketika itu printer tersebut sedang digunakan untuk proofing sebuah buku baru. Seru.

Ruwetnya urusan pertemanan dan perniagaan buku pula yang mendorong munculnya tindakan-tindakan kekerasan seperti tampak dalam rentetan kisah di atas. Anda salah kalau menganggap dunia buku Jogja itu sesantai adegan di foto-foto yang diunggah di akun-akun orang buku Jogja di media sosial: tertawa, minum kopi, merokok, saling ejek, selo, dan terlihat seperti deretan manusia yang sudah menemukan surga.

Ada banyak kasus intimidasi dan kekerasan yang dialami orang-orang buku di Jogja. Pimpinan komunitas Indonesia Boekoe berkali-kali diteriaki ormas garis keras dan disomasi hingga membuatnya hampir patah semangat untuk berkarya atau bicara di forum-forum buku. Bos Galang Press dipukuli orang-orang yang merasa agamanya paling benar. Toko Budi dan Resist Book diintimidasi oleh aparat keamanan ketika muncul kasus razia buku kiri. Acara diskusi buku tentang DN Aidit di Dongeng Kopi mendapat tekanan dari ormas dan aparat keamanan. Tapi, saya tidak heran mendengar kabar-kabar tentang peristiwa kekerasan yang dilakukan orang-orang non-buku terhadap orang-orang buku. Saya justru lebih heran ketika mengalami sendiri, melihat langsung, ataupun mendengar adanya gesekan, ancaman, bahkan kekerasan di antara sesama pegiat perbukuan. Ancaman dan pukulan tentu saja bukan bagian yang bagus dalam gerak keseharian kerja-kerja penerbitan buku.

Efek psikologis atas gesekan dan konflik pun sering kali tak terbayangkan sebelumnya. Apalagi tidak setiap orang buku mampu menghadapi dan mengatasinya dengan baik. Saya ingat ketika beberapa tahun yang lalu mendengar kabar tentang nasib tragis seorang teman yang berprofesi sebagai distributor kecil tapi sakit akut karena kehawatirannya untuk menyelesaikan pembayaran hasil penjualan dan sisa stok kepada para penerbit. Saya juga tahu beberapa orang penerbit yang sudah menghentikan usaha penerbitannya betul-betul mengaku enggan memasuki rimba buku lagi. Bisnis buku dianggap tak menguntungkan, dan risiko yang ditanggung bukan hanya risiko keuangan tapi juga keselamatan diri. Saya miris mendengarnya.

Beberapa orang lantas meninggalkan buku. Mungkin ia menikmati dunianya yang baru tanpa menjadi korban kemarahan, ancaman, maupun kekerasan. Tapi mungkin juga ia mengalaminya lagi dengan latar belakang dan masalah yang berbeda. Entahlah. Yang saya tahu sekarang adalah upaya orang-orang yang masih menjalani hidup di dunia buku Jogja dengan siasat tertentu supaya terhindar dari ancaman dan kekerasan. Mereka menjadi semacam titisan Aliarcham yang kecewa melihat pilihan Boedisoetjitro, koleganya di Hoofdbestuur PKI, menjilat pemerintah kolonial karena tidak kuat dengan siksaan sebagai orang buangan di Digoel. Tapi, menjadi Aliarcham yang depresi karena kecewa terhadap temannya hingga ia menderita TBC dan akhirnya meninggal dunia bukanlah pilihan yang tepat. Pengalaman pahit bukan alasan untuk berhenti, tapi justru menjadi pecut untuk memperbaiki diri sendiri.

Generasi terbaru penerbit buku di Jogja terbelah dalam dua kelompok. Para pemain muda di ranah buku utama berbondong-bondong memasuki pasar besar yang mensyaratkan kapital produksi dan risiko bisnis yang juga besar. Sedangkan pemain-pemain muda di ranah indie beramai-ramai mengecilkan risiko dengan cara memproduksi buku secara terbatas sambil diam-diam mengakali modal produksi yang tidak terlampau banyak. “Aku ra wani utang gede je,” kata seorang pemuda penerbit buku. Bandingkan dengan pernyataan seorang penerbit senior: “Enak kongene ki, aku ra pusing mikirke gaji karyawan.” Mungkin itu pula yang menjadikan kota ini dipenuhi penerbit-penerbit tanpa kantor, tanpa karyawan, dan bekerja sambil nongkrong di kedai-kedai.

Saya tak menemukan pelaku “buku indie grup wacana” yang main-main dengan duit bank. Saya tak melihat penerbitan buku indie ala mereka itu dijalankan dengan sebuah kesadaran tentang pentingnya membesarkan target dan pencapaian. Setidaknya sampai hari ini. Saya tak yakin mereka akan diserbu penagih utang, bertengkar hebat dengan teman karena rebutan naskah dan uang, atau saling hantam karena ketidakjujuran dalam kerja sama usaha. Saya merasa mereka adalah petualang-petualang yang menikmati permainan di pinggir hutan tanpa betul-betul bertahan hidup di rimba raya.

Di pinggir hutan hanya ada kelinci dan kupu-kupu. Di tengah rimba, singa dan harimau hilir mudik setiap saat. Permainan yang cerewet terus berlangsung di pinggir hutan. Kemeriahan selalu terdengar di dunia buku Jogja. Lihat saja perniagaan buku daring dari Jogja. Namun, sengketa dan konflik bukan tidak mungkin menyelinap di tengah pesta. Orang-orang buku itu sepertinya menyadari kemungkinan tersebut, tapi mereka pintar mencegahnya, termasuk dengan terus-menerus saling bertemu dan minum kopi di warung-warung murah.

Hari ini kita dapat menyaksikan aneka rupa rencana yang dibikin penerbit-penerbit di Jogja. Buku-buku disiapkan lalu diterbitkan. Acara-acara perbukuan dihelat hampir setiap pekan. Pamer kemampuan setiap pihak pun dapat kita lihat di lini masa akun-akun media sosial mereka. Kita tidak pernah tahu siapa saja yang bersumbu pendek dalam keriuhan tersebut. Kita tidak pernah tahu bagaimana perbedaan dan kesalahpahaman dapat dikelola dalam sebuah percakapan yang nyaman. Kita hanya tidak ingin akhirnya sebuah peristiwa meletus di ruangan pesta, lalu persahabatan terkoyak di dunia kecil buku Jogja. Semoga kopi-kopi murah selalu menjadi cara paling mudah untuk mengawetkan kebersamaan.

Silsilah Penerbit Jogja (1984-2007)

Ada dua penerbit di Jogja yang menerbitkan buku-buku humaniora pada era 1980-an, yaitu Shalahudin Press dan Tiara Wacana. Tentu saja penyebutan itu saya lakukan dengan menyingkirkan penerbit-penerbit kampus (Gadjah Mada University Press, UII Press, Duta Wacana University Press, dan lain-lain) serta penerbit-penerbit yang dimiliki organisasi sosial keagamaan dan organisasi pendidikan (Kanisius, Pustaka Muhammadiyah, Penerbit Taman Siswa, dan lain-lain). Alasannya, silsilah ini adalah upaya pelacakan genealogi “penerbit kecil” di Jogja yang memilih tema-tema buku yang unik, “berani”, dan kritis.

Walaupun Shalahuddin Press cukup dekat dengan Jamaah Shalahuddin UGM, tapi ia memilih jalan yang berbeda dengan gaya penerbitan ala kampus ataupun gaya kelembagaan. Itulah sebab ia menjadi titik awal penyusunan silsilah ini.

Shalahuddin Press yang didirikan oleh Ahmad Fanani pada 1984 adalah penerbit yang berkonsentrasi serta konsisten di ranah produksi dan distribusi teks-teks pemikiran kritis. Ia juga mulai berkesperimen dengan gaya perwajahan buku yang kelak melahirkan desain sampul khas penerbit-penerbit Jogja.

Empat orang kreatif yang berperan penting di Shalahuddin Press adalah Harry “Ong” Wahyu (desainer sampul), Ari Widjaja (desainer sampul), Mustofa W Hasyim (editor), dan Buldanul Khuri (staf tata artistik). Mereka pula yang terus aktif di dunia penerbitan buku era 1990-an dan awal 2000-an atau setelah runtuhnya Shalahuddin Press pada 1989.

Setelah era Shalahuddin Press, Buldanul Khuri mendirikan penerbit Bentang. Harry “Ong” Wahyu dan Ari Widjaja kembali ke dunia kreatif desain grafis. Sedangkan Mustofa W Hasyim mengelola majalah Suara Muhammadiyah.

Saya memulai silsilah ini dari tiga penerbit pasca-Shalahuddin Press, yaitu Bentang, Pustaka Pelajar, dan LKiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial). Mereka adalah penanda bagi munculnya penerbit-penerbit yang lahir di akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Penerbit Bentang dilahirkan oleh Buldanul Khuri pada 1992. Ia lalu mengubahnya menjadi PT Bentang Intervisi Utama. Hantaman krisis ekonomi 1997/1998 meruntuhkan Bentang, tapi ia muncul lagi dengan Yayasan Bentang Budaya. Pada 2004, rumah penerbitan ini diakuisisi oleh Mizan Pustaka dan berubah menjadi Bentang Pustaka.

Di garis yang sejajar dengan Bentang pada pohon silsilah penerbit Jogja terdapat Pustaka Pelajar dan LKiS. Di masa awal, LKiS bekerja sama dengan Pustaka Pelajar untuk produksi dan distribusi karena Pustaka Pelajar mempunyai alat-alat cetak dan Toko Buku Social Agency.

Di luar garis pengaruh Bentang, Pustaka Pelajar, dan LKiS terhadap penerbit-penerbit di awal tahun 2000-an, muncul pula penerbit-penerbit lainnya yang dipengaruhi oleh lingkungan perbukuan di Jogja, situasi keterbukaan politik pasca-Soeharto, dan maraknya rumah-rumah penerbitan baru. Bahkan, tiga faktor itu turut mempengaruhi penerbit-penerbit dari Jakarta yang proses awal kelahiran dan kegiatannya dilakukan di Jogja, yaitu Teplok Press, Melibas, dan C-Books.

 

Pengaruh Bentang

Buldanul Khuri membikin banyak sekali imprint (lini penerbitan) di era Yayasan Bentang Budaya, yaitu: Pustaka Promethea, Mata Bangsa, Mata Angin, Lazuardi, Semesta, Lotus, Pohon Sukma. Adapun penerbit-penerbit yang lahir di akhir 1990-an dan awal 2000-an karena terinspirasi dan terpengaruh oleh gaya penerbitan Bentang adalah Jendela, Yayasan Aksara Indonesia, Gelombang Pasang, Qalam, Fajar Pustaka, Navila, IndonesiaTera, Jalasutra, Yayasan Untuk Indonesia (YUI), Ikon Teralitera, Logung Pustaka, Mahatari, dan Buku Baik

Kita mulai dari Jendela.

Penerbit Jendela didirikan pada November 1999 oleh Anas Syahrul Alimi, Adhe, dan Wawan Arif Rahmat. Sebelum kongsi tiga orang ini pecah pertama kali pada 2001, mereka sempat membuat imprint bernama Pripoen Books. Di masa Anas-Adhe-Wawan, lahirlah Pustaka Sufi. Di masa Adhe, muncul lini-lini lainnya, yaitu Alinea, Gerai Pop!, dan Teras.

Setelah pecah kongsi dengan Adhe pada 2003, Anas menghela Pustaka Sufi dengan membawa serta staf-staf Jendela, yaitu Ahmad Sobirin, Roni, Ali Formen Yudha, dan lain-lain. Imprint Pustaka Sufi antara lain Islamika, Niagara, Pink Books, dan Cahaya Hikmah.

Setelah bubarnya Pustaka Sufi pada 2004, Anas mendirikan penerbit Beranda, Sobirin mendirikan penerbit Imperium, dan Roni membangun usaha percetakan. Sedangkan Wawan, yang keluar di masa awal Jendela lalu bekerja di Tiga Serangkai, memilih kembali ke Jogja dan membangun penerbit Qudsyi Media.

Selanjutnya kita bergerak ke Aksara.

Yayasan Aksara Indonesia didirikan oleh Subandi, bekas editor Bentang. Salah satu penulis, editor, ilustrator, penerjemah, dan desainer andalannya adalah Eka Kurniawan. Kelak Eka membantu sebuah rumah penerbitan bernama Orakel yang dihela oleh Anasrullah, koleganya di Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY).

Garis pengaruh Bentang berikutnya sampai di Gelombang Pasang.

Ini adalah penerbitan yang antara lain didirikan oleh Puthut EA. Kelak ia menjadi punggawa AKY Press dan membantu Insist Press. Pengaruh Insist Press adalah faktor yng turut melahirkan penerbit Resist Book. Sedangkan AKY Press mempengaruhi lahirnya penerbit Orakel yang mempunya lini penerbitan bernama Liliput.

Sekarang kita tiba di Qalam.

Penerbit Qalam didirikan oleh MT Firdaus. Editor utamanya adalah Ruslani, bekas editor Bentang. Salah satu lini penerbitannya bernama Tinta.

Mari kita lanjutkan ke kawasan Kota Gede.

Penerbit Fajar Pustaka lahir dari rahim percetakan AK Group. Punggawa utama rumah penerbitan ini adalah Ahmad Norma Permata, bekas editor Bentang. Salah satu imprint-nya bernama Benteng.

Berikutnya adalah Navila.

Rumah penerbitan ini didirikan oleh Sholeh UG, bekas wartawan Jogja Post. Pada 2002 ia turut mendeklarasikan Asosiasi Penerbit Alternatif (APA) bersama Buldanul Khuri, Mustofa W Hasyim, Dorothea Rosa Herliany, dan Amien Wangsitalaja. Lini penerbitannya antara lain Gita Nagari, Arina, dan Navila Anak.

Lantas garis pengaruh Bentang pun mencapai Magelang.

Penerbit IndonesiaTera didirikan oleh Dorothea Rosa Herliany, sahabat dekat Buldanul Khuri. Lini-lini penerbitannya antara lain Tamboer Press dan Fuspad. Pada 2006, penerbit ini diakuisisi oleh Agro Media Group dari Jakarta.

Mari kita lihat pula garis pengaruh berikutnya.

Penerbit Jalasutra didirikan oleh Andri Martias, putra kandung Mawardi (pemilik distributor buku CV Adipura). Lini-lini penerbitannya antara lain Panduan, Diwan, dan Harmonia.

Selanjutnya adalah Yayasan Untuk Indonesia (YUI). Rumah penerbitan ini didirikan oleh Andi Setiono. Lini-lini penerbitannya antara lain Tarawang dan Pradipta Publishing.

Penerbit lainnya yang terpengaruh oleh Bentang adalah Ikon Teralitera yang didirikan oleh Ade Amar. Salah satu kontributor utamanya bernama Ribut Wahyudi yang kemudian menjadi penerjemah dan editor Bentang, lantas mendirikan penerbit Diglossia. Imprint Diglossia adalah Bookmark dan Orchid.

Yang berikutnya adalah Galang Press. Kisahnya dimulai ketika Julius Felicianus, Islah Gusmian, J Sumardianta, dan Sunarwoto menggagas pendirian sebuah rumah penerbitan. Hasilnya, lahirlah Galang Press. Nama-nama imprint Galang Press: Pustaka Marwa dan Pustaka Anggrek.

Penerbit yang terpengaruh oleh Galang Press adalah Ar-Ruzz. Rumah penerbitan ini didirikan oleh Abdullah Masrur yang pernah magang di Yayasan Galang. Imprint yang dibangun Ar-Ruzz antara lain Saujana, Garasi, Prismasophie, Kata Hati, dan Javalitera.

Gaya penerbitan ala Bentang juga mendorong lahirnya penerbit-penerbit Logung Pustaka, Mahatari, dan Buku Baik. Penerbit Logung Pustaka didirikan oleh Arief Fauzi Marzuki, bekas editor Bentang. Mahatari adalah rumah penerbitan yang didirikan oleh Ita Dian Novita, bekas editor di Jendela. Sedangkan Buku Baik adalah penerbitan yang didirikan oleh Dodo Hartoko, sosok yang juga membangun penerbit Kanal bersama Sigit Jatmiko.

Yang belakangan lahir karena terpengaruh Bentang adalah penerbit Ombak. Rumah penerbitan ini didirikan oleh Muhammad Nursam. Lini-lini penerbitannya antara lain Pustaka Timur dan Bio Pustaka.

Penerbit-penerbit induk yang muncul karena pengaruh Bentang itu hampir semuanya memiliki imprint. Hanya butuh 2-3 tahun setelah kelahiran indukannya, mereka membangun lini-lini penerbitan untuk tema-tema buku populer yang diasumsikan lebih laku di pasar buku. Itulah sebab Jendela memiliki imprint Pripoen Books, Gerai Pop, dan Teras. Penerbit Pustaka Sufi serius mengembangkan Pink Books. Penerbit Qalam juga membangun Tinta. Navila tumbuh dengan memegangi tangan Gita Nagari dan Navila Anak. Sedangkan YUI menggarap buku-buku populer melalui Pradipta Publishing.

Hanya Bentang, Aksara, Fajar Pustaka yang tidak membangun lini penerbitan untuk tema-tema populer. Memang Bentang sempat berusaha melakukannya melalui Pohon Sukma, tapi eksekusi produknya tetap menampilkan nuansa “buku wacana”.

Lantas, siapa yang masih bertahan hingga sekarang?

Jawaban: Jalasutra, IndonesiaTera (berganti tema terbitan), Galang Press, Ar-Ruzz, dan Ombak.

 

Pengaruh LKiS

LKiS dilahirkan oleh komunitas aktivis mahasiswa di IAIN Sunan Kalijaga. Buku pertama yang mereka terbitkan adalah Kiri Islam karya Kazuo Shimogaki pada 1994. Nama-nama lini penerbitannya: Pustaka Pesantren, Pustaka Tokoh Bangsa, Pustaka Populer, dan Matapena.

Dari kantung LKiS muncul penerbit-penerbit yang terpengaruh olehnya, yaitu Klik-R, Syarikat, Gading Publishing, dan Oncor. Selain Klik-R, tiga penerbit lainnya didirikan oleh orang-orang yang juga mendirikan LKiS. Memang di masa awal, penerbit LKiS berada di bawah naungan Yayasan LKiS. Dari 13 orang pendiri yayasan tersebut terdapat tiga orang yang mendirikan penerbitan di luar penerbit LKiS.

Pada 2002 Syarikat (Santri untuk Advokasi Masyarakat) lahir. Nama resmi lembaga yang dipimpin oleh Imam Azis ini adalah Syarikat Indonesia. Divis penerbitannya bernama Syarikat. Selanjutnya muncul Gading Publishing yang dihela Hairus Salim, dan berkantor di Yayasan LKiS. Sedangkan Oncor dikelola oleh Akhmad Fikri AF.

Dari “pohon keluarga” LKiS, hanya Pustaka Populer dan Matapena yang menerbitkan buku-buku bertema populer. Di sisi lain penerbit-penerbit yang terpengaruh oleh LKiS pun tak berumur panjang. Klik-R, Syarikat, dan Oncor sudah berhenti. Yang masih aktif sekarang adalah Gading.

 

Pengaruh Pustaka Pelajar

Penerbit Pustaka Pelajar didirikan pada awal 1990-an oleh Mas’ud Chasan, seorang pedagang buku di pusat buku bekas di Shopping Center. Di masa awal, ia menerbitkan buku-buku praktis bertema agama. Di fase berikutnya ia membangun lini-lini penerbitan Mitra Pustaka, Mitra Bocah Muslim, Baca, dan lain-lain.

Salah satu punggawa utama Pustaka Pelajar adalah Ashad Kusumajaya. Ia lalu keluar dan mendirikan LKPM (Lembaga Konsultasi Penerbitan Masyarakat) yang secara teknis dibantu oleh Muhidin M Dahlan dan Bakkar Wibowo. Dua orang ini adalah adik angkatan Ashad di organisasi kemahasiswaan HMI MPO. Dari fase LKPM, Ashad pun mendirikan penerbit Kreasi Wacana.

Kelak Muhidin dan Bakkar berkongsi dengan Mujib Hermani di penerbit Melibas. Mereka juga terlibat dalam kelahiran Lentera Dipantara milik keluarga Pramoedya Ananta Toer. Muhidin lantas mendirikan penerbit Scripta Manent.

Siapa saja yang tetap hidup sampai sekarang?

Jawaban: Pustaka Pelajar dan berbagai imprint-nya, Kreasi Wacana, juga Scripta Manent.

 

Pengaruh Situasi Perbukuan

Memang tidak semua penerbit Jogja di awal Era Reformasi muncul karena terpengaruh oleh gaya penerbitan Bentang, Pustaka Pelajar, dan LKiS. Di tengah maraknya aktivitas penerbitan buku dan muncul penerbit-penerbit baru, maka lahir pula rumah-rumah penerbitan yang membawa gerbongnya masing-masing.

Silsilah ini harus menyebut nama Yayasan Litera Indonesia yang didirikan oleh Kurniawan Adi, Ajianto Dwi Nugroho, Cahyo, dan Indra Ismawan. Setelah Litera bubar, Kurniawan bersama Ajianto mendirikan penerbit Merapi. Sedangkan Indra Ismawan mendirikan Media Pressindo bersama Arifin dan Danuri. Lini-lini penerbitan Media Pressindo antara lain Narasi, Pustaka Yustisia, Mutiara Media, dan lain-lain.

Selepas pecah kongsi di Media Pressindo pada 2003, Danuri mendirikan penerbit Tride. Sedangkan Arifin pada 2007 kembali ke lingkaran Media Pressindo.

Selanjutnya kita harus menyebut Sumbu.

Penerbit Sumbu didirikan antara lain oleh Helmi. Lini penerbitannya adalah Oesaha Terbitan Radja Minjak. Mereka juga menerbitkan Jurnal Praksis. Salah satu penerjemah andalannya adalah Eka Kurniawan.

Yang harus disebut juga adalah Ircisod, rumah penerbitan yang didirikan oleh Edi AH Ihyubenu. Lini-lini penerbitannya antara lain Diva Press dan Palapa. Sekarang payung utamanya adalah Diva Press, sedangkan Ircisod dijadikan imprint.

Dari rahim komunitas Emha Ainun Nadjib muncul penerbit Zaituna. Salah satu punggawanya adalah Helmi Mustofa yang kemudian menjadi editor Jendela dan Pustaka Sufi. Selepas era Zaituna, lahirlah penerbit Progress yang menggarap buku-buku Emha.

Sekarang kita lihat kelompok penerbit dari hulu bernama Insist (Indonesian Society for Social Transformation).

Salah satu divisi di Insist adalah Insist Press yang menerbitkan buku-buku gerakan sosial. Orang-orang yang terlibat di rumah penerbitan ini antara lain Eko Prasetyo, editor freelance di Pustaka Pelajar. Pada 2004, Eko dan kawan-kawan tidak bergiat di Insist Press lagi dan mereka mendirikan Resist Book.

Ketika lembaga Insist membuka program beasiswa kepenulisan dengan tajuk Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), sejumlah penulis bergabung di dalamnya. Dari sinilah lahir AKY Press yang digawangi Puthut EA, Anasrullah, Faiz Ahsoul, dan lain-lain. Selepas era AKY Press, Anasrullah membangun penerbit Orakel. Imprint-nya bernama Liliput.

Pohon silsilah ini tidak lengkap tanpa menyebut penerbit-penerbit lainnya yang pernah mewarnai dinamika perbukuan di Jogja, bahkan Indonesia, yaitu: Putra Langit yang didirikan oleh Arini Hidajati, Cupid (Surgana), Lengge (Nasrullah), Sadasiva (Zulkarnaen Ishak dan Fahrudin), Philosophy Press (Purwadi), Alenia (Sohib), Titian Ilahi Press, Bigraf Publishing, Kalika, Bukulaela, Megatruh, dan Mijil.

Siapa yang tersisa dari banyak nama itu?

Jawaban: Media Pressindo, Diva Press, Insist Press, Resist Book.

 

Pengaruh Jogja untuk Jakarta

Ada beberapa penerbit di Jakarta yang terpengaruh oleh cara-cara penerbitan buku ala Jogja di awal era 2000-an, yaitu Teplok Press, Melibas, dan C-Books. Bahkan kerja penerbitan mereka pun secara teknis dilakukan di Jogja.

Teplok Press adalah rumah penerbitan yang didirikan oleh Agus Susanto atau Agus Lenon dan Buldanul Khuri. Kongsi ini lahir setelah konsep penerbitan Teplok Press yang diajukan Agus ditolak oleh calon investor dan penerbit-penerbit mapan. Namun selanjutnya penerbitan ini dikelola sendiri oleh Agus dan dikerjakan secara teknis di Jakarta.

Penerbit Melibas (Media Lintas Batas) didirikan oleh Mujib Hermani, Bakkar Wibowo, dan Muhidin M Dahlan. Pekerjaan redaksi dan produksi dilakukan di Jogja. Dua orang yang disebut belakangan bahkan turut membantu proses penerbitan buku di fase awal Jalasutra. Mereka bertiga juga berkumpul lagi, untuk kemudian berpisah lagi, di tahap kelahiran Lentera Dipantara.

C-Books adalah penerbit buku yang merupakan hasil kerja sama Buldanul Khuri dengan Coen Husen Pontoh. Usia penerbit ini tidak lama, dan buku terbitannya pun tidak banyak.

Catatan: Teplok Press, Melibas, dan C-Books sudah tiada.

 

Jogja Hari Ini

Secara umum penerbit-penerbit Jogja yang lahir di akhir 1990-an sudah tidak ada. Yang masih bertahan hingga sekarang adalah Media Pressindo, Diva Press, Insist Press, Resist Book, Jalasutra, IndonesiaTera, Ombak, LKiS, Gading, Pustaka Pelajar, Kreasi Wacana, Galang Press, Ar-Ruzz, Bentang, dan Scripta Manent.

Saya akan segara menarik garis pengaruh selanjutnya pada penerbit-penerbit Jogja yang tumbuh di kisaran tahun 2010 ke atas. Para pelaku penerbitan di Jogja, terutama yang sekarang bergerak di ranah non-mainstream, memang bersinggungan dengan generasi penerbit era 2000-an awal. Tapi itu adalah materi tulisan saya berikutnya.

Simulasi Cetak Offset

Gak usah pake bahasa ribetlah, yang gampang-gampang aja. Esai ini adalah panduan teknis yang bisa kamu praktekin ketika kamu akan nerbitin bukumu sendiri. Atau bisa juga untuk kepentinganmu saat temanmu, dosenmu, kenalanmu, bahkan siapa aja minta bantuanmu untuk nerbitin buku mereka. Tapi, kalo sesudah baca esai ini kamu masih bingung, padahal kamu pengen nerbitin buku, maka aku siap ngerjainnya buat kamu. Tentu kamu harus bayar sama aku. Wew! Aku kan bisa “dibeli”, apalagi temanku yang itu tuh hahah…

Terbitin sendiri karyamu. Bikin penerbitanmu sendiri kalo kamu mau. Itu akan bikin kamu merdeka. Puas. Senang. Lalu ngopi-ngopi sambil ngegosip soal temanmu yang lain.

Kali ini aku mau kasih simulasi produksi gaya offset alias pake mesin cetak sederhana. Offset, bukan gaya POD (Print On Demand). Alasanku, pada dasarnya pake offset itu lebih murah biayanya dibanding POD. Harga pokok produksinya per biji bisa separo lebih murah deh kayaknya.

Alat untuk produksi offset sederhana kalo di Jogja sih biasanya pake mesin Toko. Masih banyak kok percetakan yang punya mesin ini walau tren alat produksi era sekarang udah jauh lebih canggih dibanding masa kejayaan mesin Toko itu. Tapi, ingat ya, mesin ini bisa nyetak 5.000 lembar kertas per jam dengan isian satu folio, tetapi cuma bisa nyetak satu warna (hitam-putih). Keren, kan hahah…

Mesin Toko buatan Jepang itu punya dua tipe, yaitu 810 dan 820. Kalo di Jogja, hampir semua penerbit kenal mesin cetak ini. Yang jelas, mesin ini basis kerjanya pake plat kertas (paper plate), bukan film.

Kamu bisa bikin paper plate dengan membeli lembaran-lembarannya untuk master naskah bukumu yang akan dicetak. Master itu adalah hasil print. Cara ini emang lebih ribet dibanding teknik POD, tapi seru. Terasa lebih “merakyat” juga sih dibanding nyetak buku pake mesin-mesin besar yang ada di percetakan sekarang.

Tapi, sebelum masuk ke tahap produksi, yang harus kamu lakukan di awal ya sama saja kayak proses penerbitan secara umum, yatu kerja pracetak (editing naskah, bikin desain isi, bikin desain sampul, koreksi, dan proof reading). Begitu kelar, baru deh kamu cari percetakan yang murah, bikin separasi film untuk cetak sampul, lalu serahin materi itu ke percetakan, mencetak plate untuk cetak isi, dan seterusnya.

Jenis-jenis pekerjaan produksi itu bisa aja sih kamu serahin semuanya ke percetakan. Yang perlu kamu siapin hanya naskah dan desain sampul yang udah dalam bentuk film separasi. Percetakan akan ngerjain semuanya sampai bukumu turun cetak, termasuk untuk laminating sampul, finishing isi (lipat-susun), penjilidan (binding), pembungkusan dengan plastik (wrapping), dan pengepakan (packing). Kalo kamu milih jalan itu, kamu gak usah baca esai ini. Lha aku nulis beginian biar kamu mau belajar sendiri dan paham soal produksi buku.

Mulailah dari ngitung kebutuhan kertas untuk nyetak isi bukumu. Jumlah kertas yang harus kamu sediakan dihitung sesuai jumlah oplah, tebal buku, dan ukuran bukumu. Biar hemat, kamu sebaiknya bikin ukuran buku yang kertasnya bisa dipotong secara tepat tanpa sisa. Jadi, mulai sekarang jangan bikin buku hanya karena kamu suka sama ukurannya saja. Atau alasanmu adalah: “Keren nih kalo ukurannya segenggaman tangan.” Bagiku, yang seneng debat sama percetakan dalam soal produksi, faktor hemat itu nomor satu. Punya duit ataupun duitmu sedikit, produksi harus tetap jalan. Caranya? Ya jangan buang-buang uang dong.

Kebutuhan kertas untuk bukumu akan terpenuhi jika kamu beli kertasnya dalam ukuran plano, misalnya ukuran 79×109 cm atau 65×100 cm. Makanya, jadi penerbit itu jangan bayangin belanja kertas dalam skala rim-rim kecil kayak kamu mau nge-print tugas akhir kuliah. Nah, kalo udah dapet kertas plano itu, kamu harus ngitung kebutuhanmu dengan rumus: “Total halaman bukumu dibagi 4, lalu dikalikan jumlah oplah (dilebihkan sesuai kebutuhanmu), lalu dibagi 500 (hitungan per rim), kemudian dibagi lagi jumlah potongan kertas sesuai ukuran buku”.

Pusing ya? Hahah…

Begini. Misalnya ukuran bukumu 14×20 cm, maka kamu perlu potongan kertas yang ukurannya 28×21 cm. Nah, kalo kertas yang kamu pake adalah plano ukuran 79×109 cm, maka hasilnya adalah 9 potong. Lalu, kamu hanya perlu mengalikan hasilnya dengan harga kertas per plano itu di pasaran. Paham, ya.

Kita lanjut ke gaya sederhana ngitung kebutuhan kertas untuk nyetak sampul bukumu. Pakelah kertas Ivory 210 gr atau 230 gr. Harga per lembarnya bisa kamu tanyain ke toko-toko kertas. Kebutuhan kertas ini kamu hitung dengan menjumlahkan oplah bukumu dibagi potongan kertas Ivory ukuran plano 79×109 cm atau 65×100 cm.

Pusing lagi?

Ntar deh kujelasin kalo kita ketemu.

Gimana sama urusan plat master untuk cetak isi?

Kamu bisa beli paper plate di toko-toko kertas. Harga jualnya sih per boks gitu. Plat ini mampu untuk dua kali cetak ulang bukumu lho. Lumayan bandel. Jenisnya juga banyak banget, tergantung kualitasnya. Makin murah, makin jelek mutunya. Plat inilah yang akan kamu jadikan master naskah buku sebelum dicetak pake mesin offset. Caranya: teks naskah di komputer akan dicetak pada paper plate dengan printer khusus plat kertas. Biaya yang harus kamu bayar adalah sesuai harga cetak plat itu per lembar. Tentu lebih murah dong kalo kamu bawa plat sendiri. Ingat ya, komponen biaya untuk plate mastering ini ada dua: (1) Beli material plat; (2) Ongkos cetak plat.

Kamu udah punya kertas untuk nyetak isi dan nyetak sampulnya. Kamu juga udah punya master plat untuk dinaikin ke mesin cetak. Udah, itu aja material yang perlu kamu siapin. Bisa sih kamu beli dan nyerahin kerjaannya ke percetakan. Tapi, gak seru. Lebih asyik kamu kerjain sendiri biar kamu tahu pahit getirnya bikin buku hahah…

Karena kamu udah belanja sendiri bahan-bahan pokok untuk nyetak buku, maka kamu hanya perlu bayar ongkos jasa cetaknya. Ongkos cetak isi buku dalam pola offset itu macam-macam jenisnya: bisa per plat, per rim kertas, ataupun per oplah buku yang dicetak. Lalu, ongkos cetak sampul buku itu biasanya sih per 500 pcs. Kuncinya: kamu harus dapetin percetakan yang kasih ongkos paling murah untuk tiap tahap produksi itu.

Ongkos jasa lainnya yang harus kamu bayar adalah ongkos finishing cetak isi (lipat dan susun), ongkos penjilidan (binding)  dan ongkos wrapping. Dua jenis ongkos terakhir harganya biasanya disesuaikan sama ketebalan bukumu.

Udah kelar tuh produksi bukumu. Kamu sekarang bisa kasih harga jualnya untuk konsumen. Gimana cara ngitungnya?

Rumus dasar paling simpel untuk penentuan harga jual bukumu: “Biaya total produksi (pracetak dan cetak) dibagi oplah bukumu lalu dikalikan berapa aja semaumu”. Koboy ya begitu, semaumu. Yang jelas, kamu harus masukin juga royalti penulis kalo buku itu bukan karyamu sendiri. Besaran royalti itu, misalnya, 10%. Berapa duit yang akan didapat si penulis? Rumus: “Harga jual netto (setelah diskon rata-rata ke reseller dan perorangan) x oplah buku x 10%”.

Kembali ke penentuan harga jual. Ini contohnya:

Biaya total pracetak (honor penerjemahan, honor editing, honor setting isi, honor desain sampul) adalah Rp 2 juta.

Biaya total cetak adalah Rp 4 juta.

Jumlah total Rp 6 juta.

Biaya total Rp 6 juta : 1.000 eksemplar = harga pokok produksi @ Rp 6.000. Harga jual buku: Rp 6.000 x 10 = Rp 60.000.

Omset dengan asumsi bahwa semua buku terjual adalah: Rp 60.000 x 1.000 eksemplar = Rp 60 juta. Rata-rata diskon 30% jadi Rp 60 juta – 30% = Rp 42 juta.

Kewajiban bayar royalti adalah Rp 6.000 x 1.000 = Rp 6 juta.

Keuntungan yang kamu dapat: Rp 42 juta – modal total (pracetak, cetak, royalti) Rp 12 juta = Rp 30 juta. Warbyasahh hahah…

Tapi itu kalo bukumu habis semua lho. Giliran gak laku sih ya silakan gigit jari deh.

Contoh pengalian yang aku kasih ke kamu juga kegedean kayaknya. Masak dikalikan 10? Gak papalah, biar kamu semangat.

Intinya sih gitu deh. Kalkulasi dasarnya ya cuma begitu itu.

Emang harga produksi satuannya lebih murah dari harga POD. Tapi kerjanya lebih ribet. Alur produksinya lebih panjang juga. Asal kamu mau sabar, dan tetap santai demi menghemat uangmu yang disiapkan untuk produksi buku, maka panduan ini layak deh kamu praktekin.

Udah ya.

Selamat bekerja.

Caraku Hidup di Buku

Ini tahun ke-16 aku hidup bersama buku. Tepatnya, kerja sebagai penerbit buku. Gak ada profesi lain yang pernah kupilih selain penerbit. Padahal aku juga ngalamin fase paling gelap di urusan penerbitan.

Kok bisa gitu?

Apa gak bosen?

Aku gak tau sih. Yang jelas, urusan buku itu udah kayak nafasku. Heleh!

Sejak bangun tidur sampai mau tidur lagi aku mikir dan ngerjain buku. Seharian ngurusin buku. Buka media sosial, aku ngomong buku. Ngopi dengan banyak teman juga pasti selalu nyinggung buku. Balik malam, nyampe rumah, eh buku lagi.

Aku bisa begitu karena kisahnya panjang, mengular ke masa paling awal aku “dikutuk” buku. Kalo kuingat, minatku ke buku itu mungkin ada kaitannya sama minatku ke bacaan secara umum. Hobi baca gitulah. Di zaman SD aku baca Si Kuncung, SMP kubaca Kawanku, SMA kubaca Anak-anak Mama Alin.

Pas SMP aku bikin TTS di kertas-kertas manila, dipotong seukuran setengah kuarto, per lembar kujual di sekolahan. Dapat duit, deh. Padahal kan gak mudah juga bikin pertanyaan dan kunci jawabannya. Mana tiap lembar TTS-nya beda pula. Aku bisa bikin gituan karena suka baca.

Di masa SMA aku ikut ekstrakurikuler mading, nulis pendek-pendek soal kegiatan di sekolah. Malah sehabis study tour ke Jogja, kugarap 13 laporan yang wajib dibikin teman-temanku untuk wali kelas. Aku harus cari-cari referensi tentang Jogja di perpustakaan sekolah. Ditambahi dengan catatan-catatan selama di lokasi-lokasi studi lapangan itu. Gak apa-apa, yang penting dapat duit lagi deh.

Hidupku akhirnya berlabuh di Jogja. Tujuan awalnya untuk kuliah. Aku belajar serius nulis di kampus, lalu beberapa esai dan resensi buku dimuat di media. Tentu saja lebih banyak yang ditolak dan bikin sebal karena aku udah capek-capek nulis. Prett.

Di kampus, aku berteman sama Anas, anak Jawa Timur. Lalu kami sama-sama kerja di Divisi Media Watch di LP3Y, sebuah LSM jurnalisme milik sastrawan dan akademisi Ashadi Siregar. Setahun di sana, Anas lalu cabut dan milih jadi wartawan Radar Jogja.

Aku bertahan di LP3Y hingga tahun berikutnya. Lagi asyik kerja, eh Anas ngajak aku bikin usaha penerbitan buku. Oke, aku setuju. Aku pamit ke Bang Hadi. . Makasih.

Di rental komputer milik Anas dan beberapa temannya di Pogung, dekat Kampus UGM, aku kenalan sama Wawan, anak Sastra Indonesia UNDIP Semarang. Dia ternyata teman Anas semasa SMA. Aliyah, ding. Mana pernah mereka ngalamin usia remaja di SMA. Anak-anak MAN gitu. Wew!

Bertiga deh akhirnya kami bikin Penerbit Jendela. Satu buku terbit, dua, tiga… terus… terus. Dari sinilah aku mulai hidup dengan buku. Beli rokok, makan nasi, minum es teh, pacaran, senang-senang…semua pake duit dari hasil kerja di buku. Kenakalan khas anak muda juga kami lakukan, tentu saja pake “duit buku” hahah…

Jalan setahun, Wawan out. Dia lalu kerja di penerbit Tiga Serangkai. Aku dan Anas lanjut, tapi kami berpisah dua tahun kemudian. Dia bikin Pustaka Sufi, lalu Niagara, lalu Beranda, lalu kapok di tahun 2007. Sekarang dia adalah pengusaha muda yang kaya raya melalui bisnis politik dan showbiz.

Nasibku gimana?

Ya tetap aja di buku. Kayaknya emang “kutukan”. Pada 207, Penerbit Jendela yang aku kelola itu bangkrut. Hampir 400-an judul buku udah diterbitkan sejak Jendela Mark I (Anas/Adhe/Wawan), MK II (Anas/Adhe), sampai MK III (Adhe). Ujungnya kok malah tutup. Kampret.

Yang bikin jengkel lagi, aku secara materi gak punya apa-apa selain sebuah mobil. Cuma itu kekayaanku setelah tujuh tahun bekerja di buku. Punya banyak uang di usia muda emang bahaya. Ngabisin duitnya gak pake mikir. Main malam digedein, utang disepelein. Nabung aset dianggap gak penting. Sinting.

Di “fase gelap” itu aku ditawarin seorang bos distributor buku, yang sejak 2003 udah kerja sama denganku dalam pemasaran buku di ranah mayor, untuk mengelola penerbitan dia. Gajinya gede, tapi aku nolak. “Ntar malem-malem aku malah ditelepon, dikasih target, ditanya soal omset,” jawabku. Belagu, ya. Miskin kok sombong.

Oh iya, aku juga waktu itu sempat bantuin redaksi sebuah penerbit di Jogja. Bosnya adalah teman baikku sejak era Jendela MK I. Kini dia udah merambah ke bisnis properti. Ketika pada suatu malam motorku hilang digondol maling, dia kasih aku motor pengganti. Sampe hari ini motor itu ada di rumah. Thx bos heheh…

Dua tahun kemudian aku jual mobilku dan hasilnya aku pake buat nambahin biaya beli rumah. Caraku mikir kayaknya lebih dewasa dibanding era Jendela. Niatnya sih mau KPR, eh rumah yang sebelumnya aku kontrak ini malah gak ada IMB-nya. Otomatis harus dibeli tunai. Grrrr!

Harga rumah itu Rp 200 juta. Padahal waktu itu di komplek ini rata-rata udah nyampe hampir Rp 300 juta. Kubayarkan uangku ke pemiliknya, Pak Eri dan Pak Bisono, dua adik kandung cendekiawan dan sastrawan Kuntowijoyo. “Kamu beruntung,” kata teman-temanku. Mungkin karena posisinya di perumahan yang dekat banget ring road utara. Aku mesem-mesem aja.

Punya rumah, ya alhamdulillah. Tapi, aku motoran deh tuh selama hampir dua tahun. Aslinya aku gak betah hahah…

Pada 2010 aku ngikut langkah Mas Arif Abdulrakhim, bekas Corporate Manager Toko Buku Toga Mas, sewa ruang di Taman Kuliner (Tamkul) di Condongcatur untuk ngerjain buku. Ya nulis, ya nerbitin. Buku-bukunya dititip-jualkan ke distributor yang bosnya pernah nawarin aku mengelola bisnis penerbitannya itu. Di tahun ini juga aku beli mobil lagi horeeeeheheheh…

Di kisaran 2011-2012 makin banyak teman yang ngikut sewa ruang di Tamkul atau bareng-bareng ngerjain buku. Ada Fajar, Asep, Aulia, Didi, dan lain-lain. Bos-bos penerbit sering nongkrong di sana. Hawanya enak sih tuh tempat, adem. Aktivis-aktivis literasi kayak Muhidin, Faiz, Kandar, dan lain-lain juga doyan main di Tamkul. Ramelah waktu itu.

Pertengahan 2012 aku minggat dari Tamkul. Bosen. Anak-anak lainnya sih masih di sana. Bahkan sampe sekarang Aulia kerja di sana setiap hari.

Sampe hari ini aku terus hidup bareng buku. Kayaknya aku udah kawin sama buku. Gak ada kapoknya. Kok bisa ya? Padahal pernah bangkrut sampe dikejar pasukan juru tagih koffett. Kok gak kepikiran ganti mata pencaharian ya? Padahal sampe sekarang tiap hari pusing mikir tetek bengek urusan buku.

Jawabku: Kamu kok cerewet, banyak tanya kayak pegawai Pemda!

Gini caraku jelasinnya.

Aku hapal peta penerbit-penerbit Jogja. Aku hidup dan bekerja di sana. Banyak pelakunya adalah teman-teman baikku juga. Terus, apa yang bikin aku beda sama mereka? Tentu saja gak ada. Toh yang kami kerjakan sama aja: nerbitin buku.

Beberapa teman yang mulai masuk ke buku nyaris bersamaan dengan Jendela MK I sekarang berada di posisi yang beda-beda. Ada yang penerbitannya besar, punya ratusan karyawan, omsetnya dahsyat, utangnya segunung. Ada yang skalanya masih sama kayak sejak mereka memulai. Ada pula yang medioker tapi jalannya lancar.

Gimana cara mereka bekerja dan menuai hasilnya?

Tanya aja sendiri ke sana, ya. Aku cuma mau jelasin cara kamu bertahan hidup di buku dengan “modal personal” dan “modal sosial” yang paling sederhana. Setidaknya menurutku dan sesuai pengalamanku jadi penerbit buku aja sih.

Ada dua pilihan buat kamu jadi penerbit. Kalo mau jadi penerbit yang melayani jasa penerbitan buku, maka kamu akan jalan hanya dengan duit dari klien. Semua biaya penerbitan adalah uang klienmu. Siapa klienmu? Wah banyak: dosen, sekolahan, kampus, lembaga, perorangan. Nah, setelah bukunya turun-cetak, kirim ke dia. Selesai deh urusannya. Kamu bisa dapat duit dari selisih harga yang kamu tentukan ke klien dan harga yang dikasih dari pasukan pra-produksi (editing, setting, designing) dan produksi (cetak). Makelaran gitulah. Yang kedua, kamu jadi penerbit yang bikin buku terbitanmu sendiri. Tujuannya untuk disebar dan dijual. Langkah-langkahnya udah kujelasin di esai “Cara Kere Nerbitin Buku”. Mudah aja kok.

Namanya jualan buku, ya nikmatin ajalah untung dan ruginya. Risiko juga pasti selalu ada. Kalo kamu mau main di pasar mayor, kamu harus nyiapin uang kira-kira Rp 14 juta untuk nerbitin buku sebanyak 2.500 eksemplar. Anggaplah itu udah termasuk pracetak dan cetak. Bayangin kalo per bulan kamu nerbitin empat judul baru. Duit siapa, coba?

Pertanyaan yang paling dasar biasanya memang soal modal. Maksudku, uang. Kamu juga pasti nanya itu. Wajar sih, soalnya gak mungkin jalan juga tanpa uang. Aku ngalamin tuh seusai bangkrut pengen bangkit lagi tapi gak punya duit. Apa yang kulakukan? Ya kerja, dong. Kugarap buku-buku orderan kampus-kampus. Kubikin tim pracetak buku untuk ngerjain orderan para penerbit. Kumasukin divisi-divisi redaksi penerbit milik teman-temanku. Lumayanlah, selain duitnya buat makan, aku juga mulai lagi nerbitin buku.

Menurutku hal paling dasar untuk bertahan hidup di buku itu ya diri kita sendiri. Ini yang kusebut “modal personal”. Serius nih. Kamu harus cinta sama buku. Kamu perjuangin tuh cintamu. Sama kayak kamu cinta ama lawan jenis: kejar, sayangi, gumuli hahah…

Kalo dah cinta, kamu pasti membela cintamu. Mau senang atau susah, kamu bertahan. Aku dulu pernah bangkrut, parah malah. Tapi karena cinta ama buku, ya tetap aja di buku. Aku bisa kok milih kerja yang lain, tapi hatiku di buku sih ya. Susah dijelasinlah, beurat anjir ninggalin buku teh.

Kalo udah cinta, selanjutnya kamu jangan doyan konflik. Gak baik. Damai itu nomor satu, karena hidup damai adalah “modal sosial”.

Emang sih aku dulu beberapa kali emang berantem ama teman di buku. Jendela MK I pecah karena kami konflik. MK II juga remuk akibat konflik. Bahkan aku pernah dua kali berurusan ama polisi gara-gara konflik ama teman soal duit dan utang bisnis buku. Bikin males. Pusing.

Aku kemudian gak doyan konflik, dan ternyata lebih asyik. Aku masuk ke banyak lingkaran pekerja buku itu nyantai aja, toh mereka teman yang baik dan kami gak berkonflik. Aku akrab dan ditawarin segala macem sama sejumlah orang juga karena kami baik-baik saja.

Yang nempel sama semangat anti-konflik itu namanya “jaringan”. Aku gak doyan berantem, malas terlibat “kubu-kubuan”, jarang ngumpul untuk nongkrong di luar urusan buku (takut keseret isu). Aku lebih suka berteman dengan banyak sekali orang, yang tua ataupun muda. Yang kelas juragan maupun kasta gelandangan.

Generasi yang seusia Jendela MK I, bahkan seumuran dengan Bentang Budaya, itu teman-temanku. Kami akur kok. Aku juga dekat sama generasi buku indie yang meriah pasca-2010. Mereka itu anak-anak muda yang udah kayak adik-adikku sendiri. Muda-muda, pinter-pinter, nakal-nakal, keren-keren, bajigur-bajigur. Aku bahkan akrab dengan teman-teman yang aktif di gerakan literasi, anak-anak dari kelompok pedagang buku lawas, dan lain-lain. All are friends, kecuali Israel.

Sebaiknya kamu juga gitu. Banyakin temen, jangan nabung jumlah musuh. Beda pendapat sih biasa, tapi ya beda aja. Gak harus saling tikam. Punya musuh itu bikin mampet rejeki heheh…

Sadar soal pentingnya jaringan, aku selalu pengen kenal dan berteman dengan orang-orang buku di luar Jogja. Hasilnya oke, banyak sekali teman baik di berbagai kota yang bisa saling bantu denganku untuk pekerjaan buku. Sejauh ini sih gak ada salah satu dari kami yang, ngikut istilah seorang temanku di Bandung, tiba-tiba jadi backstabber gitu.

Apalagi yang dibutuhin untuk bertahan hidup di buku?

Oya, skill.

Kamu harus punya skill atau kemampuan teknis pekerjaan buku. Banyak penerbit buku itu awalnya penulis. Ada juga yang sebelumnya adalah pekerja seni. Latar belakang kayak gitu biasanya akan berpengaruh sama buku-buku yang mereka bikin. Jangan kosong blong deh.

Aku sendiri bisa nulis, ngedit, nyetting isi buku, ngedesain sampul buku, jualan buku, bikin acara buku, ngomong blablabla soal buku. Yang aku gak bisa hanya megang mesin cetak dan mengoperasikannya. Cukup lengkaplah skill itu. Biar bisa kayak gitu, kamu harus mau belajar. Ke siapa? Ya ke banyak orang yang udah bisa. Syaratnya? Jangan suka berantem ama teman. Gitu doang.

Kamu udah cinta sama buku. Kamu punya beberapa skill pekerjaan buku. Kamu udah belajar banyak hal tentang buku. Selanjutnya apa?

Kujawab ya: orientasi. Kamu jangan mau hanya jadi “pedagang buku”. Namanya pedagang, kalo dagangannya gak laku biasanya ganti barang dagangan tuh. Buku dianggap merugikan, ganti deh jualan kacamata. Betul-betul ganti usaha, bukan pengembangan usaha tanpa ninggalin buku. Tentu saja sama-sama halal, tapi di sini pula kamu diuji soal cintamu pada buku. Sebaiknya kamu jadi “orang buku”.

Kamu juga jangan iri sama orang lain. Jangan maksain sesuatu yang kamu gak mampu. Hiduplah sesuai kemampuanmu. Apa adanya. Kamu lihat orang kaya di sebelahmu gara-gara berbisnis buku, ya biasa aja. Gak usah kagetan. Kamu belum bisa kayak dia, ya biarin. Kamu pikir dia bahagia gitu? Belum tentu juga. Jangan-jangan dia iri sama kamu yang gak pernah dikejar utang ratusan juta setiap bulan. Cuek aja kalo kamu hanya bisa naik bus kota setiap hari.

Selain itu kamu harus kerja keras dan kerja cerdas. Jangan malas ngerjain buku. Kerja. Kerja. Pake bagian paling trengginas dari tubuhmu. Pake waktu terbaik untuk otakmu yang paling pintar. Tunaikan tugasmu. Garap yang bagus. Hasilnya kita lihat nanti. No pain no gain. Aku sendiri benci banget sama para pemalas. Hidup kok malas.

Yang lainnya, jujur. Jangan suka tipu-tipu. Jangan makan teman. Jangan bohongin orang. Kalo kamu harus ngerjain bukumu sendiri, penuhi kewajibanmu sama orang-orang yang bantu kamu. Kalo belum ada uangnya, bilang ke mereka. Begitu kamu punya uang, bayarin mereka. Jujurlah, tanggung jawab juga. Jangan bikin front.

Kamu perlu juga berbagi sama orang lain. Jangan numpuk duit untuk dirimu sendiri. Jangan nyimpen pengetahuan untuk otakmu sendiri. Bagilah ke banyak orang. Kalo hartamu gak seberapa, bagilah ilmu yang kamu punya. Rugi dong? Rugi apanya? Dapat pahala sih, iya. Orang-orang juga bakal sayang sama kamu kalo kamu baik ke mereka. Berprasangka baik aja. Ngapain ribet ngitung untung-rugi dalam berbagi ilmu.

Gak perlulah kita berpikir dan bertindak rumit. Santai aja. Hidup ya begini ini. Masalah pasti ada. Rasa senang juga ada. Gak mungkin setiap hari kita kena masalah. Gak mungkin juga seumur hidup kita senang melulu.

Sebenarnya buku itu bukan bisnis yang sangat menarik dibanding bisnis lainnya. Sekarang malah sedang banyak banget hambatan di perniagaan buku. Tapi, hari-hari berjalan normal kok. Hadapin aja. Berani. Yakin bahwa cinta sama buku adalah cinta sama dirimu sendiri. Bela hidupmu sendiri, lalu sayangilah orang lain juga.

Gak ada yang ajaib dari pengalamanku di dunia penerbitan buku. Hal-hal yang pait, manis, bikin emosi, bikin ketawa adalah kelumrahan. Punya duit, gembel kere hore, foya-foya, dikejar utang, dan hal-hal lainnya juga ya dijalani aja.

Kita bisa ngobrol lebih lanjut soal ini lain kali. Mungkin kita akan menghabiskan bergelas-gelas kopi dan berbatang-batang rokok untuk ngobrol di sebuah sore yang teduh. Itu pun kalo kamu emang pengen hidup di buku.

Semoga kita selalu bersyukur.